Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan melanjutkan tren penguatan pada perdagangan hari ini, Senin (5/10/2026), setelah menutup sesi akhir pekan lalu dengan kenaikan 0,46% ke level 6.036,89. Optimisme pelaku pasar muncul di tengah rilis data ekonomi Amerika Serikat yang dinilai memberikan ruang bagi kebijakan suku bunga yang lebih longgar.
Head of Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memperkirakan pergerakan indeks hari ini akan berada dalam rentang support 5.973 dan resistance 6.118. Meski berpotensi menguat, ia mengingatkan bahwa bayang-bayang arus keluar dana asing atau outflow masih menjadi tantangan signifikan bagi stabilitas pasar domestik.
Sentimen positif datang dari data Non-Farm Payrolls (NFP) Amerika Serikat bulan September yang hanya mencatatkan kenaikan 29.000, jauh di bawah ekspektasi pasar sebesar 90.000. Kondisi ini secara langsung menekan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan 28 Oktober 2026 menjadi 22,1%, turun drastis dari 64,2% pada pekan sebelumnya.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyatakan bahwa katalis eksternal tersebut sangat krusial bagi emiten yang sensitif terhadap suku bunga. “Sentimen eksternal ini berpotensi memberikan katalis positif pada awal pekan, khususnya bagi saham growth dan emiten yang sensitif terhadap suku bunga,” ujar Nafan sebagaimana dikutip dari pernyataan tertulisnya, Minggu (4/10/2026).
Secara teknikal, Nafan melihat peluang rebound semakin terbuka karena indikator stochastic telah berada di zona jenuh jual (oversold) dan mulai membentuk pola golden cross. Kendati demikian, ia mengingatkan bahwa dampak positif ini bisa terbatas jika tekanan terhadap nilai tukar rupiah serta yield Surat Berharga Negara (SBN) domestik terus berlanjut.
Di sisi lain, analis Republik Investor, Hendra Wardana, menyoroti bahwa tekanan IHSG memasuki kuartal IV 2026 lebih merupakan krisis kepercayaan investor dibandingkan masalah fundamental semata. Ia mencatat aksi jual bersih (net sell) investor asing di pasar reguler telah menyentuh angka Rp108 triliun secara year to date.
“Tekanan IHSG saat ini merupakan kombinasi faktor eksternal dan domestik. Yield US Treasury yang masih tinggi membuat aset dolar AS relatif lebih menarik sehingga dana global cenderung bertahan di pasar AS atau mengurangi eksposur ke emerging market,” ungkap Hendra, Senin (4/10/2026).
Hendra menambahkan bahwa investor perlu memantau tiga indikator utama yakni stabilitas rupiah, arah yield US Treasury, dan arus dana asing. Ia menyarankan investor untuk tidak terburu-buru menyimpulkan dimulainya fase bull market selama aksi jual asing masih mendominasi pasar.
Sebagai strategi investasi, sejumlah saham direkomendasikan untuk dicermati. MNC Sekuritas menyarankan GGRM, ISAT, dan NCKL. Sementara itu, Mirae Asset Sekuritas merekomendasikan accumulative buy untuk saham ASII, ESSA, dan SMGR. Republik Investor turut memberikan opsi speculative buy pada saham ANTM dan TINS, serta strategi buy on weakness untuk SSIA dan SRTG.










