Singapura – Integrasi kecerdasan buatan (AI) ke dalam sektor pendidikan kini menuntut pergeseran paradigma keterampilan bagi para pelajar.
Akademisi dari NUS Business School menekankan bahwa kemahiran teknis dalam mengoperasikan perangkat AI saja tidak lagi memadai bagi siswa di era digital saat ini.
Siswa kini wajib memiliki kemampuan untuk melakukan evaluasi mendalam serta bersikap kritis terhadap setiap output yang dihasilkan oleh teknologi tersebut.
Profesor di Department of Finance NUS Business School, Johan Sulaeman, menegaskan perlunya pemahaman komprehensif mengenai batasan dan kapabilitas AI.
“Yang paling penting adalah pendidikan berpikir kritis,” ujar Johan dalam sebuah diskusi di NUS Business School, Singapura, Rabu (7/10), dikutip dari laporan diskusi akademik terkait.
Menurut Johan, pelajar tidak seharusnya menelan mentah-mentah setiap informasi yang disajikan oleh sistem AI.
Siswa perlu dibekali dengan keterampilan untuk mempertanyakan validitas data dan mengevaluasi respons yang diberikan dengan skeptisisme yang sehat.
Ia menambahkan bahwa kemampuan untuk berani tidak setuju dengan AI ketika ditemukan ketidakakuratan data merupakan kompetensi krusial bagi siswa modern.
Penguasaan ini memungkinkan siswa bertransformasi dari sekadar pengguna pasif menjadi pemanfaat teknologi yang lebih efektif dan strategis.
“Bagaimana bersikap kritis, bagaimana mengevaluasi respons secara kritis, dan memasukkan semuanya ke dalam alur kerja,” ucap Johan.
Dalam praktiknya, siswa dituntut untuk tidak hanya mampu merumuskan pertanyaan yang tepat kepada AI, tetapi juga melakukan verifikasi silang terhadap jawaban yang diterima.
Johan meyakini bahwa institusi pendidikan tetap memegang peranan sentral dalam proses ini meskipun AI telah menjadi alat bantu belajar yang sangat canggih.
Interaksi manusia secara langsung dinilai tetap menjadi elemen fundamental untuk mengasah daya kritis yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh mesin.
Di sisi lain, Profesor NUS Business School, Sumit Agarwal, menyoroti potensi AI dalam memetakan hambatan belajar siswa secara personal.
AI dipandang mampu memberikan visibilitas kepada pengajar mengenai pola pikir siswa dalam menyelesaikan persoalan akademik, seperti dalam mata pelajaran matematika.
Sumit memberikan ilustrasi di mana dua siswa dapat mencapai hasil akhir yang identik melalui proses penalaran yang berbeda.
Melalui bantuan AI, guru dapat mengidentifikasi letak kebingungan siswa secara lebih spesifik dan mendalam.
“Jika saya bisa memahami bagaimana mereka melakukannya, saya bisa memahami kebingungan individu tersebut,” kata Sumit, dikutip dari catatan diskusi NUS Business School.
Data mengenai proses belajar tersebut memungkinkan guru untuk merancang metode pengajaran yang lebih presisi dan personal bagi setiap individu.
Kendati AI menawarkan efisiensi dalam memahami kesulitan siswa, penguatan kemampuan berpikir kritis tetap menjadi fondasi utama.
Siswa diharapkan mampu memposisikan AI sebagai instrumen pendukung, bukan sebagai otoritas mutlak yang menentukan kebenaran informasi.
Keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan ketajaman analisis manusia akan menjadi penentu keberhasilan siswa di masa depan.










