Jakarta – Struktur kepemilikan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga akhir September 2026 menunjukkan tren konsentrasi tinggi pada segelintir kelompok usaha.
Data terbaru mencatat sebanyak 59 emiten kini masuk dalam kategori High Shareholder Concentration (HSC).
Fenomena ini menunjukkan bahwa porsi kepemilikan publik atau free float pada emiten-emiten tersebut sangat terbatas.
Bahkan, terdapat perusahaan yang mencatatkan tingkat konsentrasi kepemilikan mencapai angka ekstrem di kisaran 90% hingga 99,99%.
PT Charnic Capital Tbk (NICK) menjadi entitas terbaru yang masuk dalam daftar pengawasan bursa per 22 September 2026 dengan tingkat konsentrasi mencapai 99,28%.
Dominasi kelompok usaha besar tampak nyata dalam daftar tersebut, terutama pada emiten di bawah naungan Grup Sinar Mas.
Beberapa emiten Sinar Mas seperti PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) mencatatkan HSC sebesar 99,58%.
Selain itu, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) berada di angka 95,76% dan PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) sebesar 95,65%.
Grup konglomerasi lainnya, seperti Grup Barito milik Prajogo Pangestu, juga mencatatkan angka signifikan melalui PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dengan tingkat HSC mencapai 97,31%.
Grup Djarum melalui PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) atau Blibli mencatatkan konsentrasi sebesar 93,83%.
Sementara itu, Grup Salim melalui PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET) tercatat memiliki konsentrasi sebesar 98,06%.
Di sektor perbankan digital dan jasa keuangan, Grup CT Corp mencatatkan PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) dengan HSC sebesar 92,71% dan PT Bank Mega Tbk (MEGA) sebesar 95,68%.
Otoritas bursa kini memperketat pengawasan terhadap fenomena ini dengan merevisi metodologi pemantauan.
Pihak BEI menambahkan kriteria price impact ratio khusus bagi emiten dengan kapitalisasi pasar di atas Rp10 triliun.
Direktur Utama BEI, Jeffrey, menjelaskan bahwa mekanisme ini bertujuan untuk menyaring potensi risiko dari saham-saham dengan konsentrasi tinggi.
Menurut Jeffrey, price impact ratio dihitung melalui perbandingan perubahan harga saham terhadap velocity, yakni rasio antara volume transaksi harian dengan jumlah saham yang beredar di publik.
“Dengan velocity yang rendah tetapi perubahan harga yang besar tentu akan menghasilkan price impact ratio tinggi. Atas saham-saham inilah kami akan melakukan screening terhadap potensi ada atau tidaknya HSC,” ujar Jeffrey dalam konferensi pers di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (14/7), sebagaimana dikutip dari Bursa Efek Indonesia.
Evaluasi berbasis price impact ratio ini akan dilakukan secara berkala setiap tiga bulan.
Peninjauan tersebut dijadwalkan mengikuti siklus evaluasi indeks utama yang berlaku di bursa, guna memastikan keterbukaan dan kesehatan pasar modal tetap terjaga di tengah tingginya konsentrasi kepemilikan saham oleh kelompok tertentu.










