Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan pelemahan signifikan pada perdagangan Rabu (7/10/2026).

Indeks ditutup terkoreksi sebesar 46,21 poin atau 0,75 persen ke level 6.146,76.

Kondisi serupa juga dialami oleh kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 yang terperosok 2,44 poin atau 0,40 persen ke posisi 605,72.

Tren negatif di pasar modal domestik ini terjadi seiring dengan melemahnya mayoritas bursa saham di kawasan Asia.

Sentimen utama yang menekan pasar adalah lonjakan harga minyak dunia akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Kenaikan harga energi tersebut memicu kekhawatiran baru di kalangan pelaku pasar global terkait ancaman inflasi dan potensi kenaikan suku bunga acuan.

“Bursa Asia didominasi pelemahan seiring kenaikan kembali harga minyak akibat berlanjutnya ancaman terhadap pasokan energi dari Timur Tengah, yang memicu kekhawatiran baru terhadap inflasi dan potensi kenaikan suku bunga,” ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, Rabu (7/10/2026).

Selain faktor geopolitik, investor global saat ini sedang menahan diri sambil menunggu rilis risalah rapat terbaru The Fed.

Pasar juga menantikan pernyataan kebijakan dari sejumlah pejabat bank sentral Amerika Serikat tersebut untuk mendapatkan sinyal arah ekonomi ke depan.

Dari sisi domestik, sentimen negatif juga datang dari data cadangan devisa Indonesia per September 2026.

Posisi cadangan devisa tercatat turun tipis menjadi 146,3 miliar dolar AS dari posisi bulan sebelumnya sebesar 146,5 miliar dolar AS.

Penurunan ini disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk pembayaran utang luar negeri pemerintah yang jatuh tempo.

Selain itu, terdapat pula penarikan pinjaman luar negeri serta langkah stabilisasi nilai tukar rupiah yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI).

Langkah intervensi tersebut diambil BI guna merespons ketidakpastian yang masih tinggi di pasar keuangan global saat ini.

Meski mengalami penurunan, cadangan devisa nasional diklaim masih berada pada level yang sangat kuat.

Posisi tersebut setara dengan 5,3 bulan impor atau 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Angka ini dipastikan masih berada jauh di atas standar kecukupan internasional yang umumnya berada di level tiga bulan impor.

Pergerakan IHSG sejak sesi pembukaan hingga penutupan perdagangan konsisten berada di zona merah.

Berdasarkan data sektoral IDX-IC, hanya sektor keuangan yang mampu bertahan di zona hijau dengan penguatan tipis 0,04 persen.

Sementara itu, sepuluh sektor lainnya mengalami tekanan jual yang cukup dalam.

Sektor energi mencatatkan penurunan paling tajam sebesar 1,48 persen.

Diikuti oleh sektor barang baku yang terkoreksi 1,28 persen serta sektor barang konsumen primer yang turun 1,21 persen.

Aktivitas perdagangan mencatatkan frekuensi transaksi sebanyak 1,53 juta kali.

Total volume saham yang berpindah tangan mencapai 47,78 miliar lembar dengan nilai transaksi sebesar Rp36,19 triliun.

Secara keseluruhan, terdapat 280 saham yang menguat, 390 saham melemah, dan 293 saham lainnya stagnan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *