Jakarta – Perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa, 7 Oktober 2026, ditutup dengan catatan dominasi tekanan jual pada sejumlah saham berkapitalisasi besar yang tergabung dalam indeks LQ45.

Sentimen negatif pasar terlihat dari aksi jual bersih oleh investor asing yang mencapai nilai Rp871,4 miliar.

Secara akumulatif, total volume penjualan bersih oleh investor asing menyentuh angka 6,37 miliar saham.

Aktivitas perdagangan tersebut berlangsung di tengah tingginya gairah transaksi di pasar modal dengan nilai total mencapai Rp36,2 triliun.

Koreksi harga saham menjadi tren utama bagi sebagian besar emiten dalam daftar pengamatan tersebut.

PT Barito Pacific Tbk (BRPT) tercatat sebagai emiten dengan penurunan terdalam di antara 20 saham yang dipantau, yakni merosot sebesar 3,38%.

Tekanan jual juga menghantui PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) yang mengalami koreksi harga sebesar 3,23%.

Di sektor industri, PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) masing-masing melemah sebesar 2,07% dan 1,84%.

Meskipun mengalami koreksi harga, data Pusat Data Kontan dan RTI menunjukkan bahwa INKP masih memegang posisi dengan rasio harga terhadap nilai buku (PBV) terendah, yakni di level 0,35 kali.

Sebaliknya, PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) berhasil mencatatkan kinerja positif dengan kenaikan harga sebesar 1,39%.

Pencapaian tersebut menempatkan MEDC sebagai emiten dengan penguatan tertinggi di antara saham-saham pilihan yang diobservasi.

Sentimen positif juga menghampiri PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) yang ditutup menguat sebesar 0,99%.

Sementara itu, beberapa emiten lainnya seperti PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dan PT Indika Energy Tbk (INDY) mampu bertahan di zona hijau dengan kenaikan masing-masing 0,67% dan 0,74%.

Terdapat pula emiten yang menunjukkan pergerakan stagnan, yakni PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI).

Dalam analisis fundamental, rasio Price Earning Ratio (PER) digunakan oleh pelaku pasar untuk mengukur seberapa besar harga saham dibandingkan dengan laba bersih per saham yang dihasilkan perusahaan.

Selain itu, rasio Price to Book Value (PBV) menjadi indikator krusial bagi investor untuk membandingkan harga pasar saham dengan nilai aset bersih perusahaan per lembar sahamnya.

Fluktuasi yang terjadi pada perdagangan hari ini mencerminkan dinamika pasar yang masih dibayangi oleh sentimen makroekonomi global.

Para investor saat ini cenderung bersikap hati-hati dalam merespons volatilitas harga saham blue chip di bursa domestik.

Data transaksi yang besar menunjukkan bahwa likuiditas di pasar modal Indonesia tetap terjaga meskipun tekanan jual dari investor asing cukup signifikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *