Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi masih menghadapi tantangan besar untuk keluar dari zona koreksi pada perdagangan hari ini, Kamis (8/10).
Tekanan jual yang cukup kuat pada sesi sebelumnya menjadi indikator utama kerentanan indeks di pasar modal domestik.
Analis dari MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menyebutkan bahwa IHSG sebelumnya telah terkoreksi sebesar 0,75% ke level 6.146 pada perdagangan Rabu (7/10).
Kondisi teknikal saat ini menunjukkan bahwa IHSG sedang berada dalam fase wave c dari wave (y) pada label hitam yang cenderung melemah.
Meski demikian, terdapat skenario penguatan yang memungkinkan indeks untuk menguji area gap di rentang 6.227 hingga 6.231.
“Namun demikian, pada label merah IHSG akan menguji area 6.342–6.430 sekaligus cluster MA20 dan MA60,” ujar Herditya dalam risetnya, Kamis (8/10).
Pihak sekuritas menetapkan batas support IHSG di kisaran 6.091 hingga 5.973 untuk mengantisipasi potensi pelemahan lebih lanjut.
Sementara itu, level resistance diproyeksikan berada pada rentang 6.297 hingga 6.376 sebagai titik uji kenaikan.
Sebagai catatan, support merupakan level harga di mana daya beli investor biasanya meningkat, sehingga mampu menahan laju penurunan harga saham.
Sebaliknya, resistance adalah titik harga tertinggi di mana aksi jual cenderung mendominasi sehingga membatasi potensi kenaikan harga lebih lanjut.
Dalam menghadapi kondisi pasar yang fluktuatif, investor disarankan untuk mencermati beberapa emiten potensial seperti PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA).
Saham HRTA direkomendasikan untuk trading buy di rentang Rp 2.110 hingga Rp 2.130 dengan target harga Rp 2.250 hingga Rp 2.300.
Investor juga diminta memperhatikan level stoploss untuk HRTA yang ditetapkan di bawah harga Rp 2.080.
Selain itu, saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) mendapatkan rekomendasi buy on weakness pada area Rp 2.250 hingga Rp 2.310.
Target harga untuk TLKM dipatok pada kisaran Rp 2.400 hingga Rp 2.460 dengan stoploss di bawah level Rp 2.200.
Di sisi lain, Phintraco Sekuritas turut memberikan analisis terkait fundamental ekonomi makro yang mempengaruhi pergerakan pasar.
Sentimen utama datang dari data cadangan devisa Indonesia yang tercatat sebesar US$ 146,3 miliar pada September 2026.
Angka tersebut menunjukkan penurunan tipis dari posisi Agustus 2026 yang berada di angka US$ 146,5 miliar.
Penurunan ini dipicu oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah serta langkah stabilisasi nilai tukar rupiah oleh Bank Indonesia.
Meskipun terjadi penurunan, cadangan devisa dinilai masih cukup kuat untuk membiayai 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
“Selanjutnya investor akan mencermati indeks keyakinan konsumen yang diperkirakan di level 118 pada September,” tulis Phintraco Sekuritas dalam analisisnya, Kamis (8/10).
Selain itu, pertumbuhan uang primer (M0) yang mencapai 9,3% secara tahunan pada September 2026 turut menjadi perhatian pasar.
Secara teknikal, indeks dinilai masih memiliki peluang untuk menguji level 6.200 hingga 6.230 karena didukung oleh penyempitan histogram negatif MACD.
Berdasarkan analisis tersebut, Phintraco Sekuritas merekomendasikan saham seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Era Media Sejahtera Tbk (DOOH), serta PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS).
Saham PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) juga masuk dalam daftar pantauan para analis untuk perdagangan hari ini.










