Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi melanjutkan tren penguatan pada perdagangan hari ini, Senin (5/10/2026), setelah berhasil ditutup naik 0,46% ke level 6.036,89 pada akhir pekan lalu. Meskipun optimisme pasar mulai tumbuh, para analis tetap mengingatkan investor untuk bersikap waspada terhadap bayang-bayang arus keluar modal asing atau capital outflow yang masih terus berlanjut.

Head of Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memproyeksikan IHSG akan bergerak dalam rentang support 5.973 dan resistance 6.118. Menurutnya, penguatan indeks sebelumnya sempat didorong oleh kinerja sektor energi, khususnya saham-saham batu bara, di tengah dinamika kenaikan yield US Treasury serta fluktuasi nilai tukar rupiah.

Senada dengan hal tersebut, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai bahwa secara teknikal, IHSG sudah berada di area oversold. Indikator stochastic yang mulai membentuk pola golden cross menjadi sinyal bahwa indeks berpotensi telah mencapai titik terendahnya.

Nafan Aji Gusta mengungkapkan bahwa rilis data Non-Farm Payrolls (NFP) Amerika Serikat yang berada di bawah ekspektasi pasar telah menurunkan peluang kenaikan suku bunga The Fed. “Ini bisa meningkatkan optimisme market. VIX Index saja turun 6,6% menjadi 15,31. Sentimen eksternal ini bagus bagi IHSG, terutama bagi saham-saham growth dan emiten yang sensitif terhadap suku bunga,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari pernyataan Minggu (4/10/2026).

Namun, tantangan bagi pasar modal Indonesia masih cukup berat memasuki kuartal IV 2026. Analis Republik Investor, Hendra Wardana, menyoroti bahwa tekanan pasar saat ini mencerminkan krisis kepercayaan yang diperparah oleh kondisi ekonomi global.

Hendra Wardana mencatat bahwa posisi net sell investor asing di pasar reguler yang telah mencapai Rp108 triliun secara year to date menjadi indikator utama keraguan investor terhadap prospek kebijakan domestik. “Tekanan IHSG saat ini merupakan kombinasi faktor eksternal dan domestik. Yield US Treasury yang masih tinggi membuat aset dolar AS relatif lebih menarik sehingga dana global cenderung bertahan di pasar AS atau mengurangi eksposur ke emerging market,” katanya, Minggu (4/10/2026).

Hendra menambahkan bahwa pelemahan rupiah yang mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS menjadi faktor yang patut diwaspadai karena berpotensi meningkatkan biaya impor dan inflasi. Meski demikian, ia optimistis jika stabilitas rupiah terjaga dan arus modal asing mulai membaik, IHSG berpeluang melakukan technical rebound ke rentang 6.300-6.600 pada kuartal IV mendatang.

Sebagai strategi investasi, para analis menyarankan beberapa pilihan saham untuk dicermati. Herditya merekomendasikan GGRM, ISAT, dan NCKL. Sementara itu, Hendra menyarankan speculative buy pada ANTM dan TINS, serta buy on weakness untuk SSIA dan SRTG. Di sisi lain, Nafan memberikan rekomendasi accumulative buy untuk saham ASII, ESSA, dan SMGR guna memanfaatkan momentum awal pekan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *