Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan signifikan selama pekan pertama Oktober 2026.
Data perdagangan mencatat indeks terkoreksi sebesar 3,28 persen dalam periode tersebut.
Pada penutupan perdagangan Jumat (2/10), IHSG berada di level 6.036,888.
Posisi ini menunjukkan penurunan cukup dalam dibandingkan pekan sebelumnya yang ditutup pada level 6.241,892.
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat adanya dinamika yang beragam dalam aktivitas pasar saham selama periode 28 September hingga 2 Oktober 2026.
Sekretaris Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Elsierra Putri Yosita, memberikan penjelasan mengenai kondisi pasar tersebut.
“Dari sisi perdagangan, aktivitas pasar saham BEI menunjukkan pergerakan yang beragam selama sepekan terakhir,” ujarnya dikutip dari keterangan tertulis BEI, Minggu (4/10/2026).
Meski indeks mengalami pelemahan, volume transaksi justru mencatatkan lonjakan yang signifikan.
Rata-rata volume transaksi harian saham meningkat tajam sebesar 72,51 persen.
Angka tersebut naik menjadi 50,37 miliar saham dibandingkan pekan sebelumnya yang berada di posisi 29,20 miliar saham.
Peningkatan juga terjadi pada rata-rata nilai transaksi harian saham di pasar modal.
Nilai transaksi harian naik sebesar 5,40 persen menjadi Rp 12,63 triliun.
Angka ini lebih tinggi dibandingkan capaian pekan sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 11,98 triliun.
Di sisi lain, rata-rata frekuensi transaksi harian justru menunjukkan tren penurunan.
Frekuensi transaksi harian mengalami perubahan sebesar 7,54 persen menjadi 1,68 juta kali transaksi.
Sebagai perbandingan, frekuensi transaksi pada pekan sebelumnya mencapai 1,82 juta kali transaksi.
Dampak pelemahan indeks juga berimbas pada nilai kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia.
“Dari sisi kapitalisasi pasar, tercatat perubahan 2,55 persen menjadi Rp 10.627 triliun dari Rp 10.905 triliun pada pekan sebelumnya,” ucap Elsierra dalam keterangan tertulis yang sama.
Sentimen negatif juga datang dari aksi jual yang dilakukan oleh investor asing.
Pada perdagangan hari terakhir pekan tersebut, investor asing mencatatkan nilai jual bersih atau net sell sebesar Rp 1,27 triliun.
Secara akumulatif sepanjang tahun berjalan 2026, investor asing telah mencatatkan nilai jual bersih yang cukup besar.
Total nilai jual bersih investor asing sejak awal tahun hingga saat ini mencapai Rp 82,55 triliun.
Volatilitas pasar yang terjadi sepanjang pekan pertama Oktober ini dipengaruhi oleh berbagai faktor domestik maupun eksternal.
Para pelaku pasar kini tengah mencermati berbagai indikator ekonomi untuk menentukan langkah investasi selanjutnya.
Kondisi pasar yang fluktuatif menuntut kehati-hatian investor dalam menyusun portofolio keuangan.
Hingga saat ini, stabilitas nilai tukar dan kebijakan moneter tetap menjadi sorotan utama para analis pasar modal.
Beberapa sektor saham terlihat merespons penurunan indeks dengan koreksi harga yang bervariasi.
Investor diprediksi akan terus memantau perkembangan kebijakan ekonomi di pekan mendatang untuk melihat arah pergerakan pasar selanjutnya.










