Jakarta – Pasar saham global mencatatkan pemulihan signifikan pada perdagangan Rabu (16/9) setelah sempat mengalami tekanan jual selama dua hari berturut-turut.

Sentimen positif ini dipicu oleh penurunan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) yang memberikan ruang bernapas bagi para investor.

Pelaku pasar saat ini tengah memusatkan perhatian pada keputusan kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) yang dijadwalkan akan diumumkan pada Kamis (17/9).

Berdasarkan data CME Group FedWatch Tool, pasar saat ini memproyeksikan peluang lebih dari 90% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin.

Langkah ini diambil di tengah kekhawatiran yang masih menyelimuti prospek pertumbuhan ekonomi dan tekanan inflasi global.

Indeks S&P 500 dan Nasdaq di bursa Wall Street berhasil ditutup menguat, didorong oleh performa positif dari sektor teknologi dan jasa komunikasi.

Secara rinci, indeks Nasdaq Composite mencatatkan penguatan sebesar 0,60%, sementara S&P 500 naik tipis 0,26%.

Di sisi lain, indeks Dow Jones Industrial Average justru harus terkoreksi sebesar 0,18% pada penutupan perdagangan.

Situasi serupa terjadi di pasar Eropa, di mana indeks STOXX 600 naik 0,44% dan FTSE 100 Inggris menguat 0,28%.

Bursa utama lainnya di Jerman, Prancis, dan Spanyol juga terpantau bergerak di zona hijau.

Chief Investment Officer Sparrow Capital Management, Gerry Sparrow, menilai bahwa pelemahan pasar sebelumnya mencerminkan ketidakpastian kebijakan moneter.

“Saya memperkirakan karena suku bunga telah menembus level 5% atau mendekatinya, hal itu menunjukkan adanya inflasi dalam sistem,” ujar Gerry Sparrow.

Penurunan yield US Treasury menjadi katalis utama bagi pergerakan pasar saham global.

Yield obligasi tenor dua tahun, yang sangat sensitif terhadap kebijakan The Fed, turun 4,42 basis poin menjadi 4,619%.

Sementara itu, yield obligasi 10 tahun menyusut 3,3 basis poin ke level 4,963%, kembali berada di bawah ambang batas psikologis 5%.

Ketua The Fed, Kevin Warsh, dijadwalkan akan menyampaikan pernyataan resmi serta menggelar konferensi pers setelah pengumuman kebijakan suku bunga.

Investor akan mencermati narasi kebijakan moneter ke depan guna mengukur dampak tekanan energi terhadap inflasi.

Di sektor energi, harga minyak mentah Brent mengalami penurunan sebesar 2,4% menjadi US$106,01 per barel.

Penurunan ini terjadi menyusul langkah Arab Saudi yang menawarkan tambahan pasokan kargo minyak melalui Oman setelah insiden kerusakan pipa.

Meski demikian, risiko pasokan global masih tetap ada akibat terbatasnya lalu lintas kapal di Selat Hormuz.

Di pasar komoditas lainnya, harga emas spot mencatatkan kenaikan sebesar 1,3% menjadi US$4.348,69 per ons troi.

Sementara itu, aset kripto Bitcoin masih tertekan dengan penurunan 0,42% ke level US$75.580,56 pasca penolakan legislasi terkait di Senat AS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *