Jakarta – Strategi pengelolaan portofolio investasi yang efektif bagi setiap investor tidak sekadar bergantung pada pemilihan instrumen yang sedang populer, melainkan pada pemahaman mendalam terhadap profil risiko dan kedisiplinan alokasi aset.
Direktur Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Tomi Taufan, menekankan bahwa keberhasilan dalam mencapai target finansial jangka panjang sangat ditentukan oleh kemampuan individu dalam mengelola emosi serta konsistensi strategi daripada spekulasi jangka pendek.
Menurut Tomi Taufan dalam keterangannya, Sabtu (12/9/2026), kunci utama dalam berinvestasi adalah mengenali karakter diri sendiri sebelum memutuskan instrumen apa yang akan dipilih.
Perjalanan investasi Tomi dimulai pada 2012 dengan fokus penuh pada pasar saham setelah mengikuti program edukasi di bursa.
Pada masa awal tersebut, ia sempat merasakan keuntungan instan dari saham sektor farmasi dan konstruksi yang memicu rasa percaya diri berlebih.
Namun, keberhasilan awal itu justru menjadi jebakan psikologis yang membuatnya mengalami kerugian akibat minimnya pengendalian emosi.
“Saya pikir wah main saham tuh gampang, enak gitu kan. Sekali dapat return, dua kali dapat return, besok-besok penginnya porsinya nambah. Eh akhirnya malah loss, habis lagi,” ujar Tomi Taufan mengenang pengalaman pahitnya di masa lalu.
Kegagalan tersebut menjadi titik balik bagi Tomi untuk mempelajari pola pergerakan pasar yang cenderung bergerak secara tematik dan rotatif antar sektor.
Seiring meningkatnya kesibukan profesional, ia menyadari bahwa instrumen saham memerlukan pemantauan intensif yang tidak lagi sesuai dengan ketersediaan waktunya.
Pergeseran strategi dilakukan dengan mengalihkan fokus investasi ke aset yang lebih stabil, terutama saat pandemi Covid-19 melanda lima tahun lalu.
Ia mulai melirik sektor properti di wilayah Bekasi dengan pertimbangan harga yang masih terjangkau dibandingkan kawasan Jakarta Selatan.
Saat ini, komposisi portofolio pribadi Tomi telah bertransformasi menjadi sangat konservatif demi menjaga stabilitas aset.
Sekitar 70% dari total kekayaannya kini ditempatkan pada instrumen properti, baik rumah maupun tanah, dengan tujuan menciptakan arus pendapatan pasif atau passive income.
Sebanyak 10% lainnya dialokasikan ke dalam instrumen emas yang dikelola melalui metode dollar-cost averaging (DCA) untuk memitigasi fluktuasi harga.
Sisanya ditempatkan pada reksa dana pasar uang dan surat berharga negara (SBN) sebagai penyeimbang risiko.
Meskipun saat ini lebih memilih aset konservatif, Tomi tidak menutup kemungkinan untuk kembali melirik pasar saham di masa depan dengan porsi terbatas, yakni sekitar 5% hingga 10%.
Rencana tersebut tetap akan dibarengi dengan peningkatan alokasi reksa dana sebagai upaya lindung nilai atau hedging sebelum masuk kembali ke instrumen yang memiliki volatilitas tinggi.
Ia menegaskan bahwa tidak ada instrumen investasi yang bersifat mutlak baik atau buruk, karena efektivitasnya sangat bergantung pada kesesuaian antara karakter instrumen dengan profil risiko masing-masing investor.










