Jakarta – PT Solusi Environment Asia Tbk (SOFA) tengah mematangkan langkah strategis untuk mempercepat pengembangan proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik atau waste to energy (WtE) di Indonesia.
Emiten yang bergerak di sektor energi baru terbarukan ini mengalokasikan kebutuhan dana investasi mencapai Rp 131 miliar guna mendukung operasional proyek hingga kuartal kedua tahun 2028.
Langkah pendanaan tersebut akan dilakukan melalui penyetoran modal awal sebesar US$ 200.000 atau setara dengan Rp 3,36 miliar kepada dua entitas konsorsium perusahaan, yakni PT Weiming Nusantara Alpha (WNA) dan PT Weiming Nusantara Gamma (WNG).
Direktur Utama SOFA, Denny Rizal, menyatakan bahwa dana tersebut disalurkan melalui anak perusahaan mereka, PT Ananta Energi Asia (AEA).
“Selanjutnya, WNA dan WNG akan melakukan peningkatan modal secara bertahap sesuai dengan kebutuhan pendanaan proyek selama periode konstruksi,” ujar Denny dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (22/9).
Kedua perusahaan konsorsium tersebut merupakan entitas patungan yang mayoritas sahamnya dikuasai oleh perusahaan pengelolaan limbah asal Cina, Zhejiang Weiming Environment Protection Co Ltd.
Modal yang disuntikkan nantinya akan difokuskan untuk merealisasikan pembangunan fasilitas WtE di wilayah Denpasar Raya, Bali, serta Bogor Raya, Jawa Barat.
Untuk memenuhi kebutuhan pendanaan tersebut, perseroan berencana melakukan aksi korporasi berupa penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu atau rights issue.
Manajemen SOFA menargetkan penyampaian pernyataan pendaftaran rights issue tersebut dapat terealisasi pada kuartal keempat tahun 2026.
Alternatif pendanaan lain seperti pinjaman perbankan atau kombinasi antara rights issue dan kredit bank juga tengah disiapkan oleh perusahaan.
Proyek WtE ini diproyeksikan mulai beroperasi secara komersial atau commercial operation date (COD) pada kuartal kedua tahun 2028.
Kepastian operasional tersebut didukung oleh perjanjian jual beli listrik (PJBL) dengan PT PLN (Persero) yang memiliki durasi kontrak panjang selama 30 tahun sejak tanggal COD.
Khusus untuk proyek Denpasar Raya, kesepakatan jual beli listrik dengan PLN telah resmi ditandatangani pada 8 Juli 2026.
Sementara itu, proyek WtE Bogor Raya saat ini masih dalam tahap penelaahan dokumen dan ditargetkan rampung pada awal kuartal keempat tahun 2026.
Investment Specialist Korea Investment Sekuritas Indonesia, Azharys Hardian, memandang positif langkah ekspansi ini sebagai upaya transformasi bisnis SOFA yang menjanjikan dalam jangka panjang.
“Proyek ini sangat menarik karena merupakan bagian dari proyek prioritas Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara,” ungkap Azharys.
Namun, ia mengingatkan bahwa investor perlu bersabar karena kontribusi terhadap kinerja keuangan belum akan terasa secara signifikan dalam waktu dekat.
“Mengingat target operasional komersial baru dipatok pada Tahun 2028, proyek ini belum akan memberikan kontribusi signifikan terhadap lonjakan laba maupun pendapatan pada tahun 2027,” tambahnya.
Selain fokus pada energi terbarukan, SOFA tetap menjalankan bisnis furnitur sebagai basis pendapatan saat ini.
Perusahaan juga berencana memperluas cakupan usaha melalui aktivitas perusahaan induk dan pembiayaan conduit untuk menjaga arus kas tetap stabil.
Transformasi besar-besaran ini merupakan tindak lanjut dari keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Desember 2025 yang mengarahkan perseroan untuk beralih sepenuhnya ke sektor energi berkelanjutan.










