Singapura – Harga minyak mentah dunia mencatatkan tren kenaikan selama dua hari berturut-turut di pasar global.
Lonjakan harga ini dipicu oleh kebuntuan diplomatik yang berkelanjutan antara Amerika Serikat dan Iran terkait perundingan nuklir.
Pukul 08.14 waktu Singapura, harga minyak jenis Brent terpantau naik sebesar 0,9 persen ke posisi US$ 106,22 per barel.
Pada saat yang sama, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami penguatan sebesar 1 persen menjadi US$ 93,51 per barel.
Ketidakpastian geopolitik ini diperburuk oleh sikap pesimistis pejabat Iran mengenai potensi tercapainya kesepakatan damai dengan Washington sebelum pemilihan paruh waktu AS pada November mendatang.
Ketegangan diplomatik tersebut semakin meruncing setelah Presiden AS Donald Trump secara tegas menolak proposal yang diajukan untuk membuka kembali akses Selat Hormuz dalam kurun waktu tujuh hari.
Di sisi lain, Arab Saudi telah mengambil langkah strategis dengan memulihkan operasional pipa minyak East-West guna mengamankan distribusi energi.
Pipa ini berfungsi sebagai jalur krusial yang memungkinkan pengiriman minyak tetap berjalan tanpa harus melalui Selat Hormuz yang sedang rawan konflik.
Data terbaru menunjukkan bahwa pemulihan operasional pipa tersebut telah mencapai sedikitnya 3,5 juta barel per hari menuju Laut Merah.
Langkah ini dilakukan setelah sebelumnya operasional pipa tersebut sempat terhenti akibat insiden serangan drone pada awal bulan ini.
Merespons dinamika pasar, Chief Investment Officer Karobaar Capital LP, Haris Khurshid sebagaimana dikutip dari Bloomberg, Selasa (29/9/2026) menyatakan bahwa risiko geopolitik saat ini masih tergolong sangat besar.
“Tetapi pasar telah belajar bahwa minyak mentah akan terus menemukan jalan untuk keluar,” ujar Khurshid.
Secara kumulatif, harga Brent telah melonjak lebih dari 70 persen sepanjang tahun ini sebagai dampak langsung dari konflik berkepanjangan di Timur Tengah.
Kenaikan harga bulanan ini juga didorong oleh kekhawatiran pasar terhadap potensi pembatasan ekspor diesel oleh pemerintah Amerika Serikat.
Terkait isu nuklir, baik pihak Washington maupun Teheran terus membantah adanya fleksibilitas dalam negosiasi yang sedang berlangsung.
Presiden Trump secara spesifik menepis laporan bahwa dirinya menawarkan keringanan sanksi sebagai imbalan atas langkah konkret dari Iran.
Hal senada juga disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang menegaskan bahwa negaranya tidak bersedia berkompromi terkait isu nuklir.
Khurshid menambahkan bahwa jika kesepakatan antara AS dan Iran yang kredibel benar-benar tercapai, maka harga minyak dunia berpotensi mengalami penurunan hingga US$ 15 per barel.
Namun, tingginya permintaan untuk pengiriman minyak dalam waktu cepat saat ini masih menjadi faktor utama yang menjaga harga tetap berada di level tinggi.
Di sisi lain, kebijakan intervensi pemerintah AS turut menuai kritik dari pelaku industri energi global.
Chief Executive Officer TotalEnergies SE, Patrick Pouyanné menilai bahwa rencana pelarangan ekspor diesel yang dipertimbangkan Trump merupakan langkah yang kontraproduktif.
“Itu ide yang buruk,” tegas Pouyanné.
Ia menjelaskan bahwa kebijakan tersebut justru akan memaksa kilang-kilang di Amerika Serikat untuk mengurangi tingkat produksinya.
Kondisi tersebut pada akhirnya berisiko memicu kenaikan harga bensin domestik di pasar Amerika Serikat sendiri.










