Jakarta – Pemerintah Indonesia optimistis laju pertumbuhan ekonomi nasional pada paruh kedua tahun 2026 akan tetap berada di jalur positif dengan proyeksi mencapai angka di atas 5,5 persen.
Keyakinan tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, dalam keterangan pers yang berlangsung di kantor Bank Indonesia, Jakarta, pada Kamis (24/9).
Suahasil menekankan bahwa target tersebut berpijak pada stabilitas indikator fundamental ekonomi domestik yang hingga saat ini masih menunjukkan kinerja cukup baik.
“Proyeksi pertumbuhan kita masih lihat bahwa saya yakin di Q3, Q4, di setengah tahun kedua ini, kita masih bisa tumbuh di atas 5,5%. Dan ini merupakan pertumbuhan yang cukup baik,” ungkap Suahasil sebagaimana dikutip dari pernyataan resminya, Jumat (25/9).
Meskipun demikian, pemerintah tetap menaruh aspirasi jangka panjang untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi hingga menyentuh angka 6 persen.
Namun, realisasi dari target ambisius tersebut sangat bergantung pada dinamika ekonomi global serta konsistensi pergerakan ekonomi di dalam negeri.
“Kalau aspirasi kita menuju 6%. Kondisi dunianya seperti ini kita lihat bagaimana gerak ekonomi Indonesia,” tambahnya.
Pemerintah menilai perekonomian Indonesia terbukti memiliki daya tahan atau resiliensi yang tinggi di tengah ketidakpastian geopolitik global yang terus memanas.
Ketahanan tersebut tercermin dari berbagai indikator makroekonomi, mulai dari tingkat inflasi, capaian pertumbuhan ekonomi, hingga ekspansi penyaluran kredit perbankan.
“Tapi sangat resilien kalau inflasinya 3,19%, kalau yang namanya pertumbuhan Q1-nya 5,45%, kalau pertumbuhan kreditnya di sekitar 13%. Ini adalah indikator-indikator yang baik buat fundamental kita,” papar Suahasil.
Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 tumbuh sebesar 5,61 persen secara tahunan atau year on year (YoY).
Sementara pada kuartal II 2026, ekonomi nasional mencatatkan angka pertumbuhan sebesar 5,29 persen YoY.
Secara akumulatif, pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang semester I 2026 berhasil mencapai angka 5,45 persen.
Selain indikator pertumbuhan, pemerintah juga memastikan bahwa kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap terjaga dengan baik.
Pemerintah berkomitmen untuk terus memantau pelaksanaan APBN secara berkala guna memastikan fungsi fiskal berjalan optimal dalam mendukung ekonomi nasional.
“APBN-nya berjalan dengan baik, dengan yang selalu tiap bulan kita lakukan,” tegasnya.
Stabilitas fiskal ini diharapkan menjadi bantalan yang kuat bagi Indonesia dalam menghadapi tantangan ekonomi di sisa tahun 2026 yang penuh dengan dinamika global.
Kesiapan instrumen fiskal dan moneter yang terkoordinasi menjadi kunci utama dalam menjaga momentum pertumbuhan di atas 5,5 persen tersebut hingga akhir tahun.










