Jakarta – Pergerakan saham yang tergabung dalam indeks LQ45 di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Senin, 14 September 2026, menunjukkan dinamika yang variatif dengan kecenderungan terkoreksi pada sektor pertambangan berkapitalisasi besar.

Sentimen pasar tampak terbagi di tengah fluktuasi harga yang dipengaruhi oleh valuasi masing-masing emiten, baik melalui rasio Price Earning Ratio (PER) maupun Price to Book Value (PBV).

Kinerja sektor perbankan menjadi penopang utama indeks di tengah lesunya saham-saham energi dan mineral.

PT Bank Tabungan Negara (BBTN) mencatatkan performa paling impresif dengan penguatan sebesar 3,40%, ditutup di level 1.215.

Kinerja positif serupa juga ditunjukkan oleh PT Bank Negara Indonesia (BBNI) yang berhasil menguat 3,20% ke level 3.870.

Data Pusat Data Kontan per 15 September 2026 mencatat bahwa penguatan juga terjadi pada saham PT Perusahaan Gas Negara (PGAS) yang naik 1,97% serta PT Japfa Comfeed Indonesia (JPFA) yang menguat 0,89%.

Di sisi lain, tekanan jual yang cukup signifikan melanda saham-saham di sektor pertambangan dan logam dasar.

PT Merdeka Copper Gold (MDKA) menjadi saham dengan koreksi terdalam di antara 20 emiten yang diamati, yakni anjlok hingga 5,57% dan berakhir di harga 2.880.

Penurunan juga dialami oleh PT Aneka Tambang (ANTM) yang melemah 2,45% ke level 3.190.

Demikian pula dengan PT Trimegah Bangun Persada (NCKL) yang terkoreksi 2,13% dan PT Merdeka Battery Materials (MBMA) yang turun 2,88%.

Meski sektor pertambangan secara umum tertekan, PT Amman Mineral Internasional (AMMN) justru mampu mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 4,94% ke level 5.100.

Pergerakan ini menunjukkan adanya perbedaan strategi investor dalam merespons prospek emiten di sektor komoditas yang sama.

Selain itu, PT Adaro Andalan Indonesia (AADI) terpantau stagnan di harga 12.225 pada penutupan perdagangan.

Dalam tinjauan valuasi, PT Indah Kiat Pulp & Paper (INKP) tercatat memiliki rasio PBV terendah di antara seluruh sampel yang dianalisis, yakni berada di level 0,38 kali.

Sementara itu, saham PT Barito Pacific (BRPT) dan PT Darma Henwa (DEWA) turut mengalami koreksi masing-masing sebesar 2,65% dan 2,87%.

Investor di pasar modal saat ini terus mencermati rasio PER untuk mengukur seberapa besar harga saham telah melampaui kemampuan laba bersih perusahaan.

Secara bersamaan, PBV tetap menjadi acuan utama untuk menilai apakah harga saham saat ini masih mencerminkan nilai aset bersih yang dimiliki perusahaan.

Kondisi pasar yang beragam ini mencerminkan kehati-hatian investor dalam menyeleksi emiten dengan fundamental yang kuat di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *