Jakarta – Harga emas batangan bersertifikat PT Aneka Tambang (ANTM) mengalami penurunan signifikan pada perdagangan Jumat (25/9/2026).

Logam mulia produksi Antam tersebut kini diperdagangkan di harga Rp 2.590.000 per gram.

Nilai ini menunjukkan koreksi sebesar Rp 15.000 dibandingkan harga sebelumnya yang berada di level Rp 2.605.000 per gram.

Pelemahan harga di pasar domestik ini sejalan dengan tren negatif yang terjadi pada emas di pasar spot global.

Data Trading Economics pada Jumat (25/9/2026) menunjukkan harga emas dunia berada di kisaran US$ 4.306 per ons troi.

Angka tersebut mencatatkan penurunan sebesar 1,76% dalam sepekan terakhir dan merosot hingga 6,26% selama periode satu bulan terakhir.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai bahwa tekanan terhadap emas saat ini dipicu oleh penguatan dolar Amerika Serikat (AS).

Indeks dolar AS (DXY) terpantau kembali menguat dan bertahan di atas level 101.

Kondisi tersebut memicu perpindahan modal para investor dari emas menuju dolar AS sebagai instrumen lindung nilai.

“Dolar (DXY) kembali menguat di atas 100, bahkan sekarang sudah di atas 101. Kondisi ini membuat banyak investor beralih dari emas dunia atau logam mulia kembali ke dolar sebagai lindung nilai,” tutur Ibrahim, Jumat (25/9/2026).

Selain faktor dolar, ekspektasi kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) turut memberikan sentimen negatif bagi komoditas emas.

Saat ini, suku bunga The Fed berada pada kisaran 3,75% hingga 4%.

Ketegangan geopolitik yang memicu lonjakan harga energi juga menambah risiko inflasi yang persisten.

Situasi ekonomi global ini memaksa bank sentral untuk tetap menahan suku bunga di level tinggi atau bahkan membuka peluang kenaikan lebih lanjut.

Di sisi lain, pergerakan nilai tukar rupiah menjadi variabel kunci bagi harga emas Antam di pasar dalam negeri.

Ibrahim memproyeksikan rupiah memiliki potensi untuk melemah ke kisaran Rp 18.100 per dolar AS pada pekan mendatang.

“Ada indikasi bahwa hingga 30 September, rupiah akan berada di kisaran Rp 18.100-an. Kondisi ini nantinya akan membuat harga emas dan logam mulia kembali naik. Kalau rupiah melemah, harga logam mulia juga akan mengalami kenaikan,” jelas Ibrahim.

Meski terjadi koreksi, penurunan harga saat ini dinilai sebagai momentum strategis bagi investor untuk melakukan akumulasi aset.

Investor disarankan untuk mempertimbangkan horizon investasi jangka panjang dalam menyusun strategi pembelian.

Bagi investor yang sempat membeli emas di harga puncak, strategi averaging down dapat dilakukan saat harga berada di rentang Rp 2,5 juta hingga Rp 2,7 juta per gram.

Langkah ini bertujuan untuk mempercepat tercapainya titik impas atau break even point saat harga kembali mengalami penguatan.

Ibrahim memproyeksikan harga emas Antam masih memiliki peluang untuk kembali menembus level Rp 3 juta per gram hingga akhir tahun 2026.

Secara keseluruhan, harga emas Antam diprediksi akan bergerak dalam rentang Rp 2,47 juta hingga Rp 3 juta per gram hingga pengujung tahun.

Investor tetap diminta untuk memantau perkembangan kebijakan The Fed, fluktuasi dolar AS, harga minyak, serta dinamika geopolitik global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *