Jakarta – Tren penguatan dolar Amerika Serikat yang melemah belum mampu mendongkrak harga logam mulia ke level bullish secara signifikan hingga Rabu (9/9/2026).
Data Trading Economics menunjukkan harga emas di pasar spot berada di level US$ 4.392 per ons troi atau naik 0,83% pada hari ini.
Angka tersebut masih terpaut jauh dari level tertinggi pada akhir Agustus 2026 yang sempat menyentuh US$ 4.684 per ons troi pada 25 Agustus lalu.
Perak juga mengalami nasib serupa dengan kenaikan harian sebesar 0,78% ke posisi US$ 66,2 per ons troi.
Harga perak saat ini masih berada di bawah capaian akhir bulan lalu yang sempat menembus angka US$ 70 per ons troi.
Kondisi ini terjadi meski indeks dolar AS (DXY) sedang berada dalam tren pelemahan di level 98,8 atau turun 0,76% dalam sepekan terakhir.
Analis PT Finex Bisnis Solusi Futures, Brahmantya Himawan, menyatakan bahwa tekanan dari imbal hasil obligasi AS dan ekspektasi suku bunga menjadi penghambat utama pergerakan harga emas.
“Setelah pernyataan Kevin Warsh di Jackson Hole yang cenderung hawkish, pasar kembali memperhitungkan kemungkinan suku bunga AS tetap tinggi atau bahkan kembali naik,” ujar Brahmantya, Rabu (9/9/2026).
Dia menambahkan, meskipun indeks dolar berada di rentang 98 hingga 99, sentimen negatif dari yield obligasi membuat logam mulia sulit mencatatkan reli harga.
Dinamika geopolitik antara AS dan Iran dinilai menciptakan anomali pasar yang menekan harga komoditas logam.
Konflik tersebut semestinya memicu permintaan emas sebagai aset safe haven, namun di sisi lain justru mendongkrak harga minyak mentah mendekati US$ 100 per barel.
Lonjakan harga minyak ini memicu kekhawatiran inflasi yang berpotensi mendorong bank sentral AS, The Fed, mengambil kebijakan lebih hawkish.
“Untuk sementara, efek negatif minyak terhadap inflasi dan suku bunga lebih dominan dibandingkan efek positif safe haven terhadap emas,” jelasnya.
Perak menghadapi tantangan tambahan karena posisinya sebagai logam industri yang sangat sensitif terhadap perlambatan ekonomi global.
Kenaikan harga minyak yang memicu perlambatan pertumbuhan ekonomi membuat harga perak cenderung bergerak mendatar atau sideways.
Brahmantya memproyeksikan adanya potensi koreksi pada harga emas dalam jangka pendek dengan zona support di kisaran US$ 4.300 hingga US$ 3.900 per ons troi.
Namun, jika area tersebut mampu bertahan, harga emas diyakini berpotensi mencapai level US$ 4.800 hingga US$ 5.000 per ons troi hingga akhir tahun 2026.
Untuk perak, prospek jangka menengah dinilai tetap positif berkat permintaan struktural dari sektor panel surya dan elektrifikasi.
Investor disarankan menerapkan strategi wait and buy on weakness serta melakukan akumulasi bertahap di zona support yang telah ditentukan.
Strategi ini dinilai lebih bijak selama tekanan dari kebijakan The Fed dan volatilitas harga energi masih membayangi pasar global.










