Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi masih akan berada di bawah tekanan jual pada perdagangan hari ini, Senin (28/9/2026).
Sentimen negatif pasar global dan domestik menjadi faktor utama yang membebani laju indeks setelah pada akhir pekan lalu ditutup melemah 0,90% ke level 6.241,89.
Secara akumulatif, indeks domestik telah terkoreksi sebesar 3,09% sepanjang pekan lalu.
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, menyatakan bahwa secara teknikal, posisi IHSG yang berada di bawah MA100 mengindikasikan tekanan jual masih cukup dominan.
Ia memproyeksikan IHSG akan kembali menguji area support di rentang 6.186 hingga 6.200 pada perdagangan hari ini.
Alrich menyebut pergerakan pasar masih dibayangi oleh kenaikan imbal hasil atau yield obligasi global.
Kondisi tersebut dipicu oleh kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Fed.
Selain itu, harga komoditas minyak yang masih bertahan di level tinggi turut menambah beban sentimen pasar.
Senada dengan hal tersebut, Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, memproyeksikan IHSG berpotensi melanjutkan koreksi.
Reza menetapkan area support IHSG berada di kisaran 6.200 hingga 6.220.
Sementara itu, area resistance indeks diprediksi berada pada rentang 6.300 hingga 6.450.
Reza menyoroti kebijakan baru dari Bursa Efek Indonesia (BEI) yang mulai berlaku efektif hari ini, Senin (28/9/2026).
Kebijakan tersebut berkaitan dengan penurunan batas harga minimum saham menjadi Rp1.
“Kebijakan ini berpotensi meningkatkan volatilitas, terutama pada saham berharga rendah,” ujar Reza.
Di sisi lain, Analis Republik Investor, Hendra Wardana, memberikan pandangan teknikal mengenai level krusial yang harus diperhatikan investor.
Hendra menilai area 6.220 hingga 6.230 menjadi batas support penting yang harus dipertahankan oleh indeks.
Apabila level tersebut mampu bertahan, IHSG memiliki peluang untuk melakukan rebound menuju level 6.320.
Selanjutnya, indeks berpotensi melanjutkan penguatan ke level 6.370 hingga 6.410.
Sebaliknya, jika level 6.220 ditembus dengan tekanan jual yang kuat, indeks berisiko terkoreksi lebih dalam.
IHSG diprediksi bisa terperosok menuju level 6.150 hingga 6.180 jika skenario tersebut terjadi.
“IHSG masih bergerak di bawah sejumlah moving average jangka pendek dan menengah, sementara momentum pasar belum menunjukkan sinyal pembalikan tren yang kuat,” ujar Hendra, dikutip dari pernyataan resmi yang dirilis pada Minggu (27/9/2026).
Namun, ia menambahkan bahwa indikator Stochastic yang mulai memasuki area oversold memberikan secercah harapan.
Kondisi teknikal tersebut membuka peluang terjadinya technical rebound dalam jangka pendek.
Pelaku pasar saat ini tengah menanti respons indeks terhadap sentimen domestik dan eksternal yang terus berubah secara dinamis.










