Jakarta – Pengusaha nasional Andi Syamsudin Arsyad, atau yang lebih dikenal sebagai Haji Isam, bersiap memperluas dominasinya di sektor pertambangan batu bara melalui PT Jhonlin Baratama.
Entitas usaha milik Haji Isam tersebut telah menyepakati akuisisi saham sebesar 30% pada PT Bayan Resources Tbk (BYAN).
Langkah strategis ini melibatkan pengalihan sebanyak 10 miliar lembar saham dari pemegang saham pengendali saat ini, Low Tuck Kwong, dan Elaine Low.
Kesepakatan tersebut dituangkan dalam Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat yang ditandatangani oleh kedua belah pihak pada 16 September 2026.
Direktur Bayan Resources, Alexander Ery Wibowo dan Alastair McLeod, mengonfirmasi bahwa transaksi ini akan menempatkan PT Jhonlin Baratama sebagai pemegang 10.000.000.500 saham BYAN.
Jumlah tersebut setara dengan 30% dari total saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh dalam perusahaan.
Meskipun kesepakatan telah diteken, pihak manajemen PT Bayan Resources Tbk menegaskan hingga saat ini belum mengetahui nilai nominal transaksi tersebut.
Selain itu, belum ada kepastian mengenai target waktu penyelesaian atau tanggal efektif rampungnya aksi korporasi ini.
“Sampai dengan tanggal surat ini, kami belum memperoleh informasi tambahan dari Dato’ Low Tuck Kwong dan Elaine Low sehubungan dengan status pemenuhan masing-masing kondisi pendahuluan,” tulis manajemen dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (28/9).
Manajemen juga memastikan bahwa posisi Low Tuck Kwong sebagai pemegang saham utama sekaligus pengendali Bayan Resources tidak akan berubah.
Pasca transaksi, Low Tuck Kwong diproyeksikan akan memiliki 6.951.170.541 saham atau setara dengan 20,853% kepemilikan.
Sementara itu, Elaine Low akan memegang 3.799.584.529 saham atau sekitar 11,399% dari total modal ditempatkan dan disetor.
Pihak perusahaan menegaskan bahwa tidak ada perubahan pengendalian perseroan setelah seluruh proses transaksi selesai dilakukan.
Terkait susunan pengurus, manajemen menyatakan belum ada rencana untuk merombak jajaran direksi maupun dewan komisaris.
Perseroan juga belum menerima permintaan resmi dari pemegang saham utama untuk menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) khusus terkait perubahan struktur manajemen.
Bursa Efek Indonesia sebelumnya telah melayangkan permintaan penjelasan mengenai strategi bisnis jangka panjang pasca-masuknya investor baru.
Pihak otoritas bursa menanyakan rencana peningkatan kapasitas operasional, belanja modal, hingga potensi sinergi bisnis dengan PT Jhonlin Baratama.
Namun, manajemen Bayan Resources mengaku belum bisa memberikan komentar lebih lanjut terkait arah strategis perusahaan ke depan.
Hal ini disebabkan karena transaksi tersebut merupakan aksi korporasi antara pemegang saham dan tidak melibatkan perseroan secara langsung.
“Pembahasan dan negosiasi transaksi dilakukan oleh para penjual dan tidak melibatkan Perseroan, Direksi dan Komisaris Perseroan selain Dato’ Low Tuck Kwong,” ujar manajemen melalui pernyataan resmi yang dirilis ke publik.
Hingga saat ini, belum ada diskusi formal antara pihak Bayan Resources dengan PT Jhonlin Baratama mengenai rencana pengembangan bisnis setelah proses akuisisi tuntas.










