Jakarta – Pasar komoditas global kembali menunjukkan volatilitas tinggi pada perdagangan akhir pekan, Sabtu (3/10/2026).

Harga emas dunia terpantau melemah cukup dalam setelah sempat mencatatkan kenaikan sesaat.

Data menunjukkan emas spot turun 0,8% ke level US$4.145,68 per ons troi pada penutupan sesi New York, Jumat (2/10).

Penurunan ini sekaligus mengonfirmasi tren negatif mingguan dengan total koreksi mencapai 3,3%.

Kondisi serupa dialami oleh kontrak berjangka emas AS yang terdepresiasi 0,7% menuju harga US$4.173,50 per ons troi.

Anjloknya harga logam mulia ini terjadi di tengah data tenaga kerja Amerika Serikat yang berada di bawah ekspektasi pasar.

Laporan ketenagakerjaan mencatat penambahan nonfarm payrolls hanya sebesar 29.000 untuk periode September.

Angka tersebut terpaut jauh dari proyeksi para ekonom yang disurvei Reuters sebelumnya, yakni sebanyak 90.000 pekerjaan.

Pemerintah AS juga melakukan revisi penurunan pada data Agustus dari 162.000 menjadi 133.000 posisi pekerjaan.

Meskipun data ekonomi melambat, emas tetap gagal mempertahankan momentum penguatannya akibat sentimen kebijakan moneter.

“Emas masih menghadapi bias hawkish dari The Fed,” ujar Han Tan, chief market analyst Bybit.

Tekanan jual pada emas dipicu oleh penguatan dolar AS yang berkelanjutan di pasar valuta asing.

Selain itu, imbal hasil atau yield US Treasury tenor 10 tahun dan 30 tahun sempat menyentuh level tertinggi sejak 2002.

Kondisi ini membuat aset tanpa imbal hasil seperti emas kehilangan daya tariknya bagi para investor global.

Banyak pelaku pasar kini lebih memilih instrumen berbunga yang dianggap lebih menguntungkan dalam situasi suku bunga tinggi.

Data tenaga kerja yang lemah sempat memicu harapan bahwa Federal Reserve akan melonggarkan kebijakan agresifnya.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada Oktober kini turun drastis menjadi 22%.

Padahal, pada awal pekan ini, ekspektasi kenaikan suku bunga sempat menyentuh angka 70%.

Namun, sentimen tersebut belum mampu memberikan dukungan yang cukup kuat untuk menopang harga emas secara jangka panjang.

Pasar masih cenderung bersikap waspada terhadap pernyataan resmi The Fed terkait inflasi dan dinamika tenaga kerja.

Analisis teknikal dari Marex menyebutkan bahwa prospek harga emas masih berada di bawah bayang-bayang tekanan.

Edward Meir, analis Marex, memperingatkan bahwa harga emas berpotensi melanjutkan pelemahan lebih lanjut.

Kondisi ini kemungkinan besar akan terus berlanjut jika siklus pengetatan suku bunga oleh bank sentral AS tetap dipertahankan.

Pelemahan harga tidak hanya menimpa emas, tetapi juga merembet ke logam mulia lainnya di pasar global.

Harga perak spot terpantau turun 1,1% ke level US$60,17 per ons troi pada akhir perdagangan.

Platinum juga mencatatkan pelemahan sebesar 1,9% menjadi US$1.692 per ons troi.

Sementara itu, palladium tertekan 0,4% dan menetap di harga US$1.166,25 per ons troi.

Secara keseluruhan, sektor logam mulia tengah berada dalam tren penurunan mingguan yang cukup signifikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *