Jakarta – Indonesia kini mulai mengukuhkan posisinya dalam peta industri teknologi global dengan membangun infrastruktur manufaktur chip serta kabel bawah laut berskala besar.
Langkah strategis ini dijalankan oleh PT Infra Fiber Teknologi (IFT), sebuah perusahaan patungan antara Arsari Group milik Hashim Djojohadikusumo dan PT Indosat Tbk.
Pembangunan infrastruktur ini dipusatkan melalui platform bernama RAIA Grid.
Platform tersebut saat ini telah mengoperasikan jaringan serat optik sepanjang 86.000 kilometer yang menghubungkan berbagai pusat data, operator telekomunikasi, hingga penyedia layanan digital di seluruh negeri.
Pembangunan komponen teknologi ini dilakukan untuk merespons lonjakan kebutuhan infrastruktur digital yang dipicu oleh pesatnya perkembangan kecerdasan artifisial (AI).
Deputy CEO dan COO Arsari Group, Aryo Djojohadikusumo, dalam acara peluncuran RAIA Grid pada Rabu (26/8), menegaskan urgensi kemandirian infrastruktur teknologi bagi Indonesia.
“Ambisi kami bukan hanya sekadar menghubungkan. Kami ingin memenuhi semua kebutuhan ini dan mulai membangun komponen-komponen infrastrukturnya di Indonesia,” ujar Aryo dikutip dari laporan resmi perusahaan, Kamis (27/8/2026).
Salah satu target utama dari inisiatif ini adalah perakitan unit pemrosesan grafis atau GPU di dalam negeri.
IFT menargetkan fasilitas perakitan tersebut sudah dapat beroperasi pada Desember 2026 mendatang.
Fasilitas produksi yang berlokasi di sekitar Jakarta ini akan dibangun melalui kolaborasi strategis antara RAIA Grid dan Indosat.
Proyek ini juga mendapatkan dukungan teknis langsung dari raksasa teknologi asal Amerika Serikat, Nvidia.
Fasilitas tersebut diproyeksikan mampu merakit 140 hingga 150 unit GPU H300 secara berkala.
Selain itu, perusahaan juga akan memfokuskan pengembangan pada GPU B300 atau Blackwell Ultra yang dirancang khusus untuk memproses beban kerja AI kompleks, termasuk model bahasa besar atau large language model (LLM).
Di samping sektor semikonduktor, RAIA Grid kini tengah menyiapkan proyek kabel bawah laut untuk memperkuat konektivitas data internasional Indonesia.
Director of Finance RAIA Grid, Hendra Purnama, menyatakan bahwa perusahaan telah mengalokasikan anggaran belanja modal (capital expenditure) yang cukup besar untuk mendukung kedua proyek ini.
“Untuk semikonduktor sekitar US$ 22 juta. Untuk subsea, kita ada tiga panel. Yang pertama sekitar US$ 192 juta,” kata Hendra sebagaimana dikutip dari pernyataan resmi perusahaan, Kamis (27/8/2026).
Secara total, investasi untuk kedua komponen tersebut mencapai sekitar Rp3,8 triliun.
Namun, angka tersebut belum mencakup nilai investasi keseluruhan dari seluruh proyek yang dijalankan oleh RAIA Grid.
Hendra menambahkan bahwa pengembangan kemampuan manufaktur semikonduktor domestik sangat penting agar Indonesia tidak sekadar menjadi pasar bagi produk teknologi asing.
Langkah ini diharapkan mampu menempatkan Indonesia lebih kuat dalam rantai pasok teknologi AI global.
Selain itu, infrastruktur kabel bawah laut menjadi kunci untuk mendukung pertukaran data dalam volume masif yang dibutuhkan oleh ekonomi digital masa depan.
Jaringan fiber optik sepanjang 86.000 kilometer yang dikelola RAIA Grid berfungsi sebagai “jalan tol digital” utama bagi Indonesia.
Infrastruktur ini dirancang untuk mendukung berbagai kebutuhan teknologi modern, mulai dari jaringan 5G, layanan fiber-to-the-home (FTTH), hingga koneksi antar pusat data.
Melalui integrasi fiber, kabel bawah laut, dan perakitan GPU, RAIA Grid berupaya membangun ekosistem digital yang komprehensif bagi Indonesia.










