Jakarta – Kinerja instrumen reksadana pendapatan tetap (RDPT) diperkirakan akan bergerak mendatar atau flat sepanjang sisa tahun 2026.
Tren ini dipicu oleh fluktuasi suku bunga yang menekan harga obligasi sebagai aset dasar utama reksadana tersebut.
Meski terjadi tekanan pada nilai aset, pendapatan dari kupon obligasi dinilai mampu menjadi bantalan yang menjaga stabilitas kinerja reksadana.
Berdasarkan catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dinamika pasar obligasi telah memengaruhi nilai aktiva bersih (NAB) reksadana pendapatan tetap dalam beberapa bulan terakhir.
Data menunjukkan posisi NAB berada di angka Rp 223,76 triliun pada Juni 2026.
Angka tersebut sempat terkoreksi menjadi Rp 217,10 triliun pada Juli sebelum kembali mengalami penguatan tipis ke posisi Rp 219,09 triliun pada Agustus.
Direktur Panin Asset Management, Rudiyanto, menjelaskan bahwa korelasi antara suku bunga dan harga obligasi menjadi faktor penentu utama dalam kinerja reksadana ini.
“Benar, apabila rate naik, harga obligasi turun. Hal ini tercermin dari kinerja reksa dana pendapatan tetap yang minus baik YTD ataupun 1 bulan terakhir ini,” ujar Rudiyanto dalam keterangannya, Selasa (22/9/2026).
Fenomena penurunan harga obligasi ini memicu reaksi yang beragam di kalangan investor pasar modal.
Sebagian investor memilih untuk melakukan aksi jual karena merasa tidak nyaman dengan volatilitas yang terjadi.
Namun, tidak sedikit pula investor yang melihat kondisi ini sebagai peluang untuk mengakumulasi aset pada harga yang lebih murah.
“Harga turun bukan berarti investor meninggalkan. Posisi investor bisa beli ataupun jual, yang tidak nyaman dan jual ada. Yang beli karena dapat harga murah juga,” tambah Rudiyanto.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pergerakan suku bunga merupakan fenomena yang bersifat siklikal atau berulang.
Ketika situasi ekonomi makro kembali stabil dan terkendali, ada potensi bagi suku bunga untuk kembali melandai.
Kondisi tersebut nantinya akan memberikan ruang bagi harga obligasi untuk kembali menguat di pasar sekunder.
Saat ini, pelaku pasar tengah menaruh perhatian besar pada hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pada 23 September 2026.
Sebagai informasi, pada pertemuan Agustus lalu, Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate di level 5,75%.
Keputusan ini menjadi acuan penting bagi manajer investasi dalam menyusun strategi portofolio obligasi ke depan.
Secara keseluruhan, proyeksi kinerja RDPT hingga akhir tahun diprediksi akan tetap terbatas dan tidak menunjukkan lonjakan signifikan.
Manajer investasi akan terus mengandalkan pendapatan kupon untuk menyeimbangkan potensi kerugian akibat penurunan harga aset obligasi.
“Kinerjanya akan relatif flat, karena meski ada penurunan harga, ada kompensasi dari kupon obligasi,” tutup Rudiyanto.










