Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan akhir pekan pada Jumat (11/9/2026) dengan pelemahan sebesar 0,73% atau turun 47,96 poin ke level 6.541,38.

Koreksi pada penutupan sesi hari ini sekaligus menggenapi pelemahan indeks sebesar 1,43% sepanjang pekan berjalan.

Meskipun pasar berada di bawah bayang-bayang tekanan jual, para analis menilai pelemahan tersebut masih dalam batas yang wajar.

IHSG dinilai masih menunjukkan ketahanan karena mampu bertahan di atas level psikologis 6.500.

Praktisi Pasar Modal & Founder WH-Project, William Hartanto, menyebutkan bahwa koreksi yang terjadi pada akhir pekan ini tergolong sebagai koreksi sehat.

“Terjadi koreksi sehat di akhir pekan, masih bagus karena IHSG bertahan di atas 6.500,” ujar William sebagaimana dikutip dari keterangan resminya, Jumat (11/9/2026).

Menurut William, pergerakan indeks sepanjang pekan ini lebih didominasi oleh faktor teknikal.

Ia menyoroti adanya technical rebound pada beberapa sektor krusial seperti tambang, energi, hingga saham-saham yang berkaitan dengan ekosistem kendaraan listrik.

William memproyeksikan IHSG berpeluang untuk kembali menguat pada pekan depan, meski dalam rentang yang cenderung terbatas.

Ia menetapkan level support indeks di angka 6.500 dan resistance di level 6.642.

Sektor energi diprediksi masih akan menjadi pusat perhatian bagi pelaku pasar dalam beberapa hari ke depan.

Di sisi lain, Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengonfirmasi bahwa pelemahan indeks memang dibarengi dengan peningkatan tekanan jual.

Herditya menjelaskan, salah satu katalis utama yang menekan pasar adalah lonjakan harga minyak mentah dunia.

Harga minyak mentah tercatat menembus angka US$ 100 per barel akibat eskalasi konflik di Timur Tengah serta serangan terhadap infrastruktur energi di Arab Saudi.

Sentimen negatif tersebut semakin diperberat oleh data Producer Price Index (PPI) Amerika Serikat yang naik 0,4% secara bulanan.

Kenaikan PPI sebesar 5,4% secara tahunan memicu kekhawatiran investor mengenai kebijakan moneter yang lebih agresif dari The Fed.

Pasar saat ini tengah menanti arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat yang akan dibahas dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC).

Namun, Herditya menambahkan bahwa terdapat faktor penahan yang cukup kuat bagi pasar domestik.

“Rilis data cadangan devisa Indonesia dianggap masih menjadi bantalan bagi pergerakan IHSG,” papar Herditya.

Selain itu, penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang ditutup di level Rp 17.611 per dolar AS turut memberikan sentimen positif bagi pasar.

Herditya memprediksi IHSG pada pekan depan akan bergerak dengan support di 6.440 dan resistance di 6.623.

Investor disarankan untuk memantau pergerakan rupiah serta aliran dana asing ke pasar saham domestik.

Untuk strategi investasi, Herditya merekomendasikan beberapa saham yang layak dicermati, yakni ADMR pada rentang harga Rp 1.710–Rp 1.765.

Saham INET juga menjadi opsi dengan kisaran harga di Rp 366–Rp 400.

Terakhir, saham NCKL direkomendasikan untuk dicermati pada rentang harga Rp 980–Rp 1.060.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *