Jakarta – Sektor industri plastik hilir di Indonesia diprediksi masih akan menghadapi tantangan operasional yang cukup berat hingga penghujung tahun 2026.
Kondisi pasar yang penuh tekanan ini dipicu oleh akumulasi berbagai faktor eksternal maupun internal.
Sejumlah variabel utama yang menjadi penghambat meliputi kenaikan harga bahan baku, gangguan rantai pasok naphtha, hingga pelemahan daya beli masyarakat.
Selain itu, tingginya suku bunga acuan serta serbuan produk plastik impor asal China semakin mempersempit ruang gerak margin keuntungan perusahaan.
Data sepanjang semester I-2026 menunjukkan bahwa emiten sektor plastik mengalami lonjakan beban pokok penjualan atau cost of goods sold (COGS) yang signifikan.
Peningkatan beban tersebut tercatat berada di rentang 12% hingga 52% pada beberapa perusahaan seperti PT Panca Budi Idaman Tbk (PBID), PT Primadaya Plastisindo Tbk (PDPP), PT Argha Karya Prima Industry Tbk (AKPI), PT Asiaplast Industries Tbk (APLI), dan PT Asia Pramulia Tbk (ASPR).
Beban emiten tidak berhenti pada biaya produksi saja.
Pertumbuhan utang bank jangka pendek dengan angka dua digit turut memperburuk beban pendanaan perusahaan.
Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menegaskan bahwa kenaikan COGS adalah masalah krusial.
“Kalau kenaikan biaya ini tidak bisa diteruskan ke harga jual, gross margin dan laba berpotensi kembali tertekan sampai akhir 2026,” ujar Elandry, Kamis (1/10/2026).
Meski demikian, tidak semua emiten berada dalam posisi yang sama rentannya.
Elandry menyoroti PBID sebagai perusahaan yang memiliki kemampuan lebih baik dalam menyerap tekanan biaya.
Kinerja PBID pada semester I-2026 menunjukkan pertumbuhan laba bersih sebesar 112,1% secara tahunan menjadi Rp410,5 miliar.
“PBID misalnya masih mampu mencatat net profit Rp410,5 miliar pada 6M26, naik 112,1% YoY, dengan net margin 13,1% dan debt/equity hanya 0,07x,” ungkapnya.
Kondisi neraca keuangan yang sehat dengan rasio utang rendah membuat posisi PBID jauh lebih defensif dibandingkan kompetitornya.
Di sisi lain, terdapat harapan dari sisi kebijakan pemerintah terkait rencana penerapan bea masuk bahan baku sebesar 0% untuk jenis polypropylene, polyethylene, LLDPE, dan HDPE.
Kebijakan ini diharapkan mampu menekan landed cost dan memperbaiki margin perusahaan yang sangat bergantung pada bahan baku impor.
Namun, Elandry mengingatkan bahwa pemulihan kinerja sektor ini tetap bergantung pada stabilitas harga minyak, kurs mata uang, serta permintaan domestik.
Saat ini, beberapa emiten seperti PDPP dan AKPI masih terus berupaya memperbaiki kinerja keuangan di tengah beban bunga yang cukup tinggi.
AKPI misalnya, telah berhasil melakukan turnaround dengan laba Rp66,2 miliar, namun dengan tingkat leverage yang lebih tinggi dibandingkan PBID.
Secara keseluruhan, prospek industri plastik hingga akhir 2026 masih dinilai mixed.
Keberlanjutan laba dan pemulihan margin akan menjadi penentu utama bagi investor dalam menilai re-rating saham-saham di sektor tersebut.










