Jakarta – Pasar modal Indonesia mengalami tekanan jual yang masif pada perdagangan Kamis (1/10/2026), yang mengakibatkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup terkoreksi 1,02% ke level 6.009,50.
Penurunan tersebut menandai posisi terendah indeks dalam kurun waktu lebih dari dua bulan terakhir.
Sebanyak 450 saham tercatat mengalami pelemahan di tengah aksi jual bersih investor asing yang mencapai Rp 240 miliar di pasar reguler.
Sentimen negatif yang menyelimuti pasar domestik dipicu oleh ketidakpastian politik pasca-perombakan Kabinet Merah Putih.
Selain itu, investor masih mencermati tekanan pada nilai tukar rupiah serta rilis data ekonomi makro yang memberikan sinyal beragam.
Meskipun neraca perdagangan Agustus mencatatkan surplus sebesar US$ 3,55 miliar, data inflasi September yang mencapai 3,28% secara tahunan (YoY) memberikan kekhawatiran terkait meningkatnya beban harga domestik.
Pelaku pasar saat ini juga tengah menanti arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, The Fed, sembari memantau data tenaga kerja AS.
Kondisi pasar domestik ini berbanding terbalik dengan bursa Wall Street yang mencatatkan penguatan tipis pada penutupan perdagangan kemarin.
Indeks Dow Jones Industrial Average naik 0,04% ke 50.926,56, S&P 500 meningkat 0,19% ke 7.666,45, dan Nasdaq Composite menguat 0,04% ke posisi 26.871,60.
Analisis teknikal yang dirilis dalam riset Sajian Pagi Menu Trading (SAPA MENTARI) dari BRI Danareksa Sekuritas pada Jumat (2/10/2026) menyebutkan bahwa IHSG masih berada dalam tekanan berat.
Indeks telah menembus level support Fibonacci di angka 6.019 dan kini bergerak mendekati level psikologis 6.000.
Indikator MACD yang masih menunjukkan momentum bearish memperkuat potensi konsolidasi indeks pada rentang 6.000 hingga 6.200.
“Kemampuan IHSG untuk kembali menembus level 6.185 akan menjadi konfirmasi awal untuk membuka ruang technical rebound,” ujar riset tersebut.
Dalam riset yang sama, BRI Danareksa Sekuritas memberikan pandangan terhadap sejumlah saham untuk perdagangan hari ini.
PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) direkomendasikan beli pada rentang 1.350–1.400 dengan target harga 1.440 dan 1.500, serta batasan risiko (stop loss) di bawah 1.300.
PT Wahana Interfood Nusantara Tbk (COCO) juga mendapat rekomendasi beli di level 105–110 dengan target harga 116 dan 124, namun investor disarankan melakukan stop loss jika harga turun di bawah 95.
Selanjutnya, PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) disarankan untuk beli pada kisaran harga 800–825, dengan target harga 855 dan 915, serta stop loss di bawah 800.
Sebaliknya, untuk PT Arkora Hydro Tbk (ARKO), sekuritas tersebut memberikan rekomendasi jual (sell) mengingat harga yang masih berada dalam tren penurunan (downtrend) dengan support selanjutnya di level 2.437.










