Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan pergerakan yang cenderung konsolidatif pada pembukaan perdagangan hari ini, Senin (24/8/2026).
Mata uang Garuda sempat dibuka menguat tipis sebesar 0,02% atau empat poin ke level Rp 17.690 per dolar AS berdasarkan data Bloomberg.
Namun, fluktuasi pasar yang dinamis membuat rupiah berbalik melemah 0,03% atau lima poin ke posisi Rp 17.699 per dolar AS pada pukul 09.12 WIB.
Kondisi ini terjadi setelah pada perdagangan sebelumnya rupiah mampu ditutup menguat 0,3% ke level Rp 17.694 per dolar AS.
Secara akumulatif dalam sepekan terakhir, kurs rupiah spot sebenarnya mencatatkan penguatan sebesar 0,75% dari posisi awal di Rp 17.827 per dolar AS.
Analis Doo Financial, Lukman Leong, menilai potensi penguatan rupiah untuk saat ini masih sangat terbatas.
“Rupiah diperkirakan berkonsolidasi, dengan potensi menguat terbatas oleh pelemahan dolar AS, namun ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah dan harga minyak yang masih tinggi menahan rupiah,” ujar Lukman dikutip dari analisis pasar, Senin (24/8/2026).
Ia memproyeksikan pergerakan rupiah sepanjang hari ini akan berada dalam rentang Rp 17.650 hingga Rp 17.750 per dolar AS.
Tekanan eksternal terutama dipicu oleh rencana pengumuman Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, terkait pemberlakuan sanksi baru terhadap Iran.
Bessent dijadwalkan menyampaikan kebijakan tersebut dalam konferensi pers pada Senin pukul 14.00 waktu setempat atau 18.00 GMT dengan ancaman sanksi terberat dalam sejarah.
Situasi ini diperkeruh oleh kebijakan Presiden AS Donald Trump yang mengancam akan menjatuhkan sanksi kepada negara mana pun yang berani melakukan perdagangan dengan Iran.
Menanggapi tekanan tersebut, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa negaranya sedang berada dalam kondisi perang berskala penuh.
“Kami sedang menghadapi perang ekonomi, militer, dan keamanan berskala penuh,” ucap Pezeshkian sebagaimana disiarkan oleh kantor berita IRNA, Minggu (23/8/2026).
Pezeshkian menyoroti retorika AS yang dianggapnya terus berusaha menekan stabilitas Iran melalui ancaman sanksi ekonomi yang sangat berat.
Meskipun ditekan, pemimpin Iran tersebut menegaskan bahwa negaranya tidak akan runtuh dan tetap menunjukkan solidaritas nasional.
“Musuh menilai jika Iran jatuh, maka negara ini akan menjadi seperti Venezuela. Hal itu tidak terjadi, Iran justru menjadi kekuatan yang mengagumkan lewat perlawanan dan solidaritas,” kata Pezeshkian.
Ketegangan antara Washington dan Teheran ini kembali memuncak setelah perundingan tindak lanjut nota kesepahaman bulan Juni lalu menemui jalan buntu.
Penyebab kebuntuan tersebut adalah adanya perselisihan mengenai skema navigasi di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia.
Ketidakpastian geopolitik di kawasan tersebut menjadi faktor utama yang menjaga harga minyak mentah tetap tinggi di pasar global.
Kondisi inilah yang pada akhirnya membatasi ruang gerak penguatan mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah, di tengah sentimen pasar yang masih cenderung menghindari risiko.










