Jakarta – PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) resmi mengamankan rantai pasok bahan baku emas domestik melalui kemitraan strategis dengan PT Freeport Indonesia (PTFI).
Langkah ini ditandai dengan keberhasilan perseroan melakukan transaksi perdana pembelian 50 kilogram emas murni dengan kadar 99,99% dari fasilitas Precious Metal Refinery milik PTFI di Gresik pada pertengahan September 2026.
Emas yang dipasok tersebut berbentuk cast bars dengan berat satuan satu kilogram per batang.
Kemitraan ini diproyeksikan menjadi katalis positif bagi kinerja operasional HRTA sepanjang tahun berjalan.
Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, menilai kolaborasi tersebut memberikan kepastian pasokan bahan baku domestik yang lebih stabil.
“Kami melihat kerja sama ini memperkuat kepastian pasokan bahan baku domestik secara berkelanjutan dan mendukung target volume penjualan emas HRTA yang tahun ini direvisi ke kisaran 25-28 ton,” ujar Azis, Jumat (26/9/2026).
Integrasi rantai nilai yang lebih kuat menjadi poin penting dalam kerja sama antara kedua perusahaan tersebut.
Akses langsung ke sumber emas murni dalam negeri memungkinkan HRTA mengoptimalkan alur kerja mulai dari pengadaan bahan baku, proses pemurnian, manufaktur, hingga ke jaringan distribusi.
Efisiensi rantai pasok ini diharapkan mampu menekan ketergantungan perusahaan terhadap pasokan impor maupun perantara pihak ketiga.
Langkah ini juga berpotensi meminimalisir biaya logistik serta mengurangi risiko volatilitas harga bahan baku yang kerap terjadi di pasar global.
Kendati demikian, dampak nyata dari efisiensi tersebut masih memerlukan pembuktian melalui laporan keuangan perseroan pada kuartal-kuartal mendatang.
Pergerakan harga emas di pasar global tetap menjadi variabel krusial yang dipantau oleh para pelaku pasar.
Ketidakpastian geopolitik global yang terus berlanjut membuat fungsi emas sebagai aset safe haven tetap relevan bagi investor.
Permintaan emas batangan sebagai instrumen investasi diprediksi akan tetap kuat apabila tren harga emas global terus berada di level tinggi.
“Menurut pandangan kami, beberapa faktor yang mempengaruhi adalah harga emas global kalau masih tinggi atau uptrend karena ketidakpastian geopolitik dan fungsi safe-haven, demand emas batangan sebagai instrumen investasi berpotensi tetap kuat; dan juga volume penjualan HRTA yang sekarang dapat tailwind tambahan dari kepastian pasokan PTFI,” papar Azis.
Meskipun fundamental perusahaan terlihat semakin solid, analis menyarankan investor untuk tetap mencermati dampak margin dari efisiensi rantai pasok ini.
Saat ini, Kiwoom Sekuritas Indonesia memberikan rekomendasi trading buy untuk saham berkode HRTA.
Target harga terdekat untuk saham tersebut dipatok berada pada level Rp 2.450 per lembar saham.
Kepastian pasokan dari PTFI menjadi modal penting bagi HRTA dalam memenuhi target produksi serta permintaan pasar domestik yang terus berkembang.










