New York – Bursa saham Amerika Serikat menutup perdagangan akhir pekan pada Sabtu, 29 Agustus 2026, dengan tren pelemahan di seluruh indeks utama.

Sentimen negatif ini dipicu oleh pernyataan tegas Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, terkait kebijakan moneter ke depan.

Warsh menegaskan bahwa bank sentral masih memiliki banyak pekerjaan yang harus diselesaikan untuk menekan inflasi.

“Tanpa keyakinan bahwa inflasi bergerak secara jelas dan cukup cepat menuju target 2% yang ditetapkan Fed, bank sentral masih memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan,” ujar Warsh dalam pidato perdananya di Jackson Hole sebagaimana dikutip dari Reuters.

Indeks S&P 500 terkoreksi 19,23 poin atau 0,25% menjadi 7.711,76.

Nasdaq Composite mengalami tekanan lebih dalam dengan penurunan 138,93 poin atau 0,52% ke level 26.402,42.

Sementara itu, Dow Jones Industrial Average mencatatkan penurunan tipis 9,45 poin atau 0,02% di angka 53.559,99.

Meskipun ditutup melemah pada Jumat, secara akumulatif dalam sepekan indeks S&P 500 masih mencatat kenaikan 0,49%.

Indeks Nasdaq dalam periode yang sama menguat 0,85%, sementara Dow Jones naik 0,53%.

Pasar merespons negatif sinyal hawkish dari Warsh yang kembali membuka ruang bagi kenaikan suku bunga pada pertemuan September 2026.

Data inflasi terkini yang dianggap belum menunjukkan perubahan tren signifikan menjadi dasar utama pertimbangan kebijakan tersebut.

“Alasan pasar bereaksi secara moderat adalah karena dia sangat teguh pada pendirian bahwa target inflasi 2% akan tetap dipertahankan. Dia menegaskan kembali sikap hawkish-nya, namun dengan cara yang lebih konsisten alih-alih bertahap,” kata Mark Hackett, kepala strategi pasar di Nationwide.

Hackett menambahkan bahwa sempat muncul ekspektasi keliru dari investor bahwa sikap bank sentral akan melunak, namun kenyataan di lapangan justru menunjukkan sebaliknya.

Dalam pandangan lain, Aditya Bhave, kepala riset ekonomi AS di Bank of America, menilai beban pembuktian kini berada di pundak Warsh.

Bhave menyatakan bahwa kecuali data ketenagakerjaan dan inflasi Agustus menunjukkan pelemahan ekstrem, kenaikan suku bunga pada September menjadi agenda yang sulit dihindari agar kredibilitas bank sentral tetap terjaga.

Di sisi lain, pergerakan saham emiten teknologi besar cenderung bervariasi setelah reli yang dipicu oleh laporan kinerja Nvidia sebelumnya.

Saham Nvidia terpantau turun 4,6%, sementara Marvell Technology anjlok 10,3% akibat keraguan investor mengenai proyeksi pendapatan cip kecerdasan buatan.

Sebaliknya, saham berkapitalisasi besar lainnya seperti Alphabet naik 1,7% dan Apple menguat 1,6%.

Sektor ritel juga mencatatkan fluktuasi signifikan, dengan saham Gap melonjak hampir 13% setelah pengumuman CEO baru Old Navy.

Sebaliknya, saham Ulta Beauty turun 4,2% setelah melambatnya pertumbuhan penjualan pada kuartal kedua, menambah daftar tekanan pada pasar saham di akhir pekan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *