Jakarta – PT PLN Energy Management Indonesia (PLN EMI) kini membidik pasar internasional untuk memperluas jangkauan bisnis Renewable Energy Certificate (REC).
Langkah strategis ini dirancang untuk menyasar negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara.
Target pasar utama yang disasar meliputi Singapura, Malaysia, Papua Nugini, dan Timor Leste.
Ekspansi lintas batas atau cross-border ini didasarkan pada kesepakatan antarnegara yang telah dijalin oleh pemerintah Indonesia.
Direktur Utama PLN EMI, Henri Firdaus, mengonfirmasi rencana tersebut dalam sesi diskusi panel ‘Decarbonizing Business: Driving ESG Performance and Competitiveness’ di Jakarta, Kamis (17/9).
“Kami akan memberlakukan cross-border untuk REC, di sini nantinya negara-negara tetangga yang bersinggungan seperti Singapura, Malaysia, Papua Nugini, dan Timor Leste,” ujar Henri dalam pernyataan yang dikutip dari laporan diskusi panel tersebut, Kamis (17/9/2026).
REC sendiri merupakan sertifikat digital resmi yang menjadi bukti bahwa listrik yang digunakan pelanggan berasal dari pembangkit energi terbarukan.
Sumber energi bersih tersebut mencakup tenaga air, panas bumi, hingga energi surya.
Pihak perusahaan menegaskan bahwa strategi pemasaran REC ke luar negeri tidak akan berfokus pada perang harga.
Manajemen lebih memilih untuk memprioritaskan pemenuhan kebutuhan spesifik pelanggan di pasar global.
Sejak pertama kali diluncurkan pada tahun 2021, PLN mencatat keberhasilan penjualan REC mencapai 20,72 terawatt per jam (TWh).
Capaian tersebut berkontribusi signifikan terhadap upaya dekarbonisasi nasional.
“Ini jumlahnya cukup luar biasa, dari 20,72 TWh itu, kami sudah mereduksi emisi sebesar 16,29 juta ton CO2 ekuivalen,” ungkap Henri.
Perusahaan kini melihat potensi besar dari basis pelanggan yang ada untuk memperluas penetrasi sertifikat energi hijau ini.
Terdapat sekitar 323 ribu pelanggan sektor industri dan 5 juta pelanggan sektor bisnis yang menjadi target pengembangan.
Salah satu inovasi yang disiapkan adalah REC berbasis waktu atau hourly-matching.
Layanan ini memungkinkan pelanggan untuk melakukan pencatatan penggunaan energi hijau secara lebih rinci, baik secara harian maupun mingguan.
Inovasi ini dinilai sangat relevan dengan masifnya pembangunan pusat data (data center) di Indonesia.
Pusat data membutuhkan kepastian pasokan energi bersih yang terpantau secara presisi untuk memenuhi standar keberlanjutan mereka.
Produk REC diposisikan sebagai model bisnis baru yang krusial dalam mendukung agenda dekarbonisasi nasional.
PLN EMI menyatakan kesiapan untuk memanfaatkan momentum ketersediaan karbon yang melimpah di Indonesia.
Pemerintah Indonesia sendiri telah memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan ekosistem energi bersih ini.
Langkah ini diharapkan mampu memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain utama dalam perdagangan sertifikat energi terbarukan di kawasan regional.










