Jakarta – Nilai tukar rupiah diprediksi akan mengalami fluktuasi dengan kecenderungan melemah terbatas pada perdagangan hari Jumat, 18 September 2026.

Tekanan terhadap mata uang Garuda ini dipicu oleh tingginya imbal hasil aset dolar Amerika Serikat (AS) serta dinamika geopolitik global yang masih terus berkembang.

Berdasarkan data pasar spot pada Kamis (17/9/2026), rupiah ditutup melemah sebesar 57 poin atau 0,32% ke level Rp 17.753 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga mencatat pelemahan serupa sebesar 0,23% ke posisi Rp 17.753 per dolar AS, dibandingkan posisi hari sebelumnya yang berada di angka Rp 17.712 per dolar AS.

Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menyatakan bahwa pelemahan rupiah pada Kamis (17/9/2026) utamanya dipicu oleh penyesuaian pasar atau repricing pasca keputusan The Fed menaikkan suku bunga acuan FOMC sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%–4,00%.

Penyesuaian kebijakan bank sentral AS tersebut mendorong investor melakukan penataan ulang portofolio mereka secara signifikan.

“Penyesuaian kebijakan bank sentral AS tersebut mendorong penataan ulang portofolio investor, di samping dampak penahanan harga minyak mentah Brent di pasar global,” ujar Syafruddin dikutip dari laporan resmi, Kamis (17/9/2026).

Sementara itu, pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menyoroti faktor eksternal lainnya yang memengaruhi pergerakan pasar.

Pasar saat ini tengah merespons pernyataan Ketua The Fed, Kevin Warsh, yang mengisyaratkan adanya potensi pengetatan kebijakan lebih lanjut demi menekan laju inflasi.

Di sisi lain, perkembangan dialog antara pihak AS dan Houthi di Yaman memberikan sentimen positif dengan membantu meredakan kekhawatiran terkait gangguan pasokan energi global.

Syafruddin turut mencermati pergerakan yield US Treasury tenor 10 tahun yang berada di kisaran 5% serta melandainya harga minyak Brent di level US$104 per barel sebagai penentu arah arus modal.

Dari dalam negeri, Ibrahim menyoroti komitmen Menteri Keuangan Suhasil dalam menjaga APBN serta sinyal bertahannya BI-Rate pada level 5,75% menjelang Rapat Dewan Gubernur mendatang.

Syafruddin menambahkan bahwa langkah preemptive Bank Indonesia yang telah menaikkan suku bunga hingga 100 basis poin dinilai efektif dalam menjaga kecukupan likuiditas valas dan cadangan devisa nasional yang kini berada di level US$146,5 miliar.

Ia menekankan bahwa arah nilai tukar rupiah sangat bergantung pada pergerakan pasar obligasi AS dan komoditas global.

“Jika yield AS turun dan minyak melanjutkan koreksi, rupiah berpeluang stabil,” ungkap Syafruddin.

Ibrahim juga sependapat bahwa perbaikan arus modal asing dan disiplin fiskal memperkuat posisi tawar rupiah di tengah tekanan eksternal.

“Fundamental makroekonomi yang perlahan mengeras turut menjadi tameng bagi BI,” kata Ibrahim.

Untuk perdagangan Jumat (18/9/2026), Syafruddin memproyeksikan rupiah bergerak pada rentang Rp 17.720 hingga Rp 17.800 per dolar AS.

Sementara itu, Ibrahim mengestimasi rupiah akan terus berfluktuasi dan diperkirakan ditutup melemah pada kisaran Rp 17.750 hingga Rp 17.790 per dolar AS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *