Pontianak – Habitat orangutan Kalimantan kini berada dalam kondisi sangat kritis akibat lonjakan titik panas atau hotspot yang meluas sepanjang Agustus 2026.
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bahkan telah mengonfirmasi satu kasus kematian orangutan jantan dewasa yang diduga kuat dipicu oleh paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Data terbaru dari organisasi konservasi Geopix mencatat sebanyak 17.375 titik panas terdeteksi di dalam habitat orangutan selama bulan Agustus saja.
Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan akumulasi titik panas pada bulan Juni dan Juli yang tercatat sebanyak 14.150 titik.
Senior Wildlife Campaigner Geopix, Annisa Rahmawati, menegaskan bahwa kegagalan dalam mitigasi karhutla saat ini menciptakan ancaman serius bagi kelestarian satwa liar.
“Krisis ini adalah pukulan terberat bagi kita, tidak hanya bagi manusia, tetapi juga satwa liar di dalamnya,” ujar Annisa dikutip dari keterangan resmi, Jumat (4/9).
Analisis Geopix menunjukkan bahwa sekitar 25 juta hektare dari total 42,8 juta hektare habitat orangutan di Kalimantan memiliki potensi tinggi untuk terbakar.
Kawasan seperti Muller-Schwaner, Western Schwaner, dan Seruyan-Sampit saat ini dikategorikan dalam kondisi paling kritis.
Populasi orangutan di wilayah tersebut sangat terbatas, sehingga kebakaran skala kecil pun dapat mengancam keberlangsungan hidup seluruh populasi lokal.
Geopix mendesak adanya aksi tanggap darurat segera di wilayah-wilayah tersebut melalui pembentukan tim pemadam kebakaran, patroli cepat, dan pembuatan sekat bakar.
Sementara itu, kawasan Rungan River, Katingan, dan Gunung Palung berada dalam tingkat kerentanan sedang yang memerlukan pengawasan ketat.
Pencegahan dini melalui penetapan kawasan lindung serta penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan menjadi langkah krusial yang harus segera diimplementasikan.
Kebakaran hutan tidak hanya menyebabkan kerusakan fisik habitat, tetapi juga memicu dampak domino bagi ekosistem orangutan.
Satwa yang terancam punah ini kehilangan akses terhadap pohon pakan serta tempat untuk membuat sarang.
“Kehilangan pohon pakan menjadi salah satu dampak paling langsung, karena kebakaran dapat menghancurkan pohon yang menghasilkan buah, daun, bunga, dan sumber makanan lainnya,” tulis laporan tersebut.
Paparan asap kebakaran juga memicu tekanan fisiologis, termasuk tingkat stres tinggi dan respons inflamasi pada tubuh satwa.
Kondisi ini memaksa orangutan mengubah pola perilaku, seperti memperpendek jarak jelajah untuk menghemat energi di tengah buruknya kualitas udara.
Penurunan daya tahan tubuh akibat polutan asap juga meningkatkan kerentanan orangutan terhadap infeksi parasit yang berbahaya.
Fragmen habitat yang terpecah akibat kebakaran juga memperkecil peluang perkembangbiakan dan pertukaran genetik antarpopulasi.
Jika kanopi hutan terus menipis, orangutan terpaksa turun ke tanah, yang secara otomatis meningkatkan risiko konflik dengan aktivitas manusia.
Kematian orangutan di Kalimantan Barat menjadi peringatan keras akan bahaya nyata karhutla bagi kesehatan dan keberlangsungan hidup satwa liar di habitat aslinya.










