Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan jual yang signifikan pada perdagangan Selasa (22/9/2026).
Indeks utama bursa domestik tersebut ditutup melemah sebesar 1,69% atau setara dengan 107,68 poin ke posisi 6.277,04.
Sentimen negatif mendominasi lantai bursa dengan mayoritas saham mengalami koreksi harga.
Data perdagangan mencatat sebanyak 533 saham berakhir di zona merah, sementara hanya 139 saham yang mampu mencatatkan penguatan.
Terdapat pula 118 saham lainnya yang bergerak stagnan sepanjang sesi perdagangan hari ini.
Di tengah kondisi pasar yang sedang tertekan, para pelaku pasar mulai melirik saham-saham dengan potensi rebound teknikal.
Beberapa analis menilai bahwa koreksi yang terjadi justru membuka peluang untuk strategi trading jangka pendek pada emiten tertentu.
VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi, menyatakan bahwa potensi pemulihan harga masih terbuka lebar bagi saham-saham yang telah menyentuh area jenuh jual atau oversold.
“Rebound teknikal masih terbuka pada saham yang sudah mendekati area oversold,” ujar Oktavianus dikutip dari laporan resmi perusahaan, Selasa (22/9/2026).
Salah satu emiten yang menjadi sorotan untuk strategi trading buy adalah PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA).
Head of Online Trading BCA Sekuritas, Achmad Yaki, mengidentifikasi adanya pola three black crows yang mengindikasikan kuatnya tekanan jual di pasar.
Pola tersebut diperkuat dengan pelemahan indikator RSI serta peningkatan volume transaksi pada saham bersangkutan.
Meskipun demikian, indikator stochastic kini berpotensi membentuk golden cross yang menjadi sinyal awal pemulihan.
DSSA ditutup melemah 4,39% ke level Rp 980 per lembar saham pada penutupan perdagangan hari ini.
Para investor disarankan untuk memperhatikan level support di angka Rp 920 dengan target resistance pada posisi Rp 1.115.
Selain DSSA, PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) juga dinilai memiliki prospek serupa dengan tekanan jual yang mulai terbatas.
Volume penjualan pada saham TOWR terpantau mengalami penurunan, sementara indikator RSI kini bergerak mendekati area oversold.
Oktavianus menyarankan strategi buy on weakness bagi investor dengan area support di kisaran Rp 386 hingga Rp 394.
Target harga untuk potensi rebound ini dipatok pada level resistance Rp 430, dengan catatan pembatasan risiko jika harga menembus level bawah Rp 380.
TOWR mencatatkan penurunan sebesar 2,42% menjadi Rp 404 per saham pada perdagangan Selasa ini.
Berbeda dengan kedua emiten di atas, PT Astra International Tbk (ASII) saat ini masih terjebak dalam fase bearish consolidation.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menjelaskan bahwa indikator stochastic K_D dan RSI masih menunjukkan sinyal negatif bagi pergerakan harga ASII.
Saham tersebut ditutup terkoreksi 0,83% ke level Rp 4.780 per saham.
Rekomendasi yang diberikan untuk ASII saat ini adalah hold dengan rentang support di Rp 4.720 dan resistance di Rp 4.990.
Secara keseluruhan, pasar saham domestik saat ini menuntut kehati-hatian ekstra dari para investor di tengah fluktuasi IHSG.
Strategi trading jangka pendek menjadi opsi bagi mereka yang ingin memanfaatkan volatilitas harga, sementara saham dengan sentimen bearish memerlukan konfirmasi perbaikan momentum sebelum layak untuk dikoleksi kembali.










