Jakarta – Saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) mengalami tekanan jual yang signifikan pada perdagangan Kamis (10/9/2026).
Nilai saham emiten batu bara tersebut merosot 4,9 persen atau 675 poin, ditutup pada level Rp 13.100 per lembar.
Koreksi harga ini dipicu oleh merebaknya kabar rencana akuisisi 62 persen saham BYAN oleh pengusaha asal Kalimantan, Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam.
Entitas yang dikendalikan oleh Haji Isam dilaporkan telah mengajukan penawaran tunai senilai US$ 3 miliar atau setara dengan Rp 52,5 triliun.
Angka tersebut ditujukan untuk mengambil alih kepemilikan mayoritas saham yang saat ini dipegang oleh orang terkaya Indonesia, Low Tuck Kwong, dan putrinya, Elaine Low.
Berdasarkan data Bloomberg yang dirilis pada Rabu (9/9/2026), nilai penawaran ini mencerminkan diskon besar sekitar 80 persen jika dibandingkan dengan kapitalisasi pasar Bayan Resources yang mencapai US$ 26 miliar.
Secara teoritis, nilai 62 persen saham perusahaan seharusnya berada di kisaran US$ 16,12 miliar berdasarkan harga pasar saat ini.
Namun, sejumlah pengamat menilai bahwa perbedaan harga penawaran dan kapitalisasi pasar merupakan hal yang wajar dalam transaksi blok besar.
Hal ini disebabkan oleh terbatasnya jumlah saham beredar (free float) di pasar yang membuat likuiditas perdagangan saham BYAN menjadi cukup tipis.
Selain itu, prospek industri batu bara termal yang menghadapi tantangan transisi energi global dan kebijakan pembatasan kuota produksi pemerintah turut memengaruhi valuasi perusahaan.
Bayan Resources tercatat sebagai salah satu produsen yang terdampak cukup signifikan oleh kebijakan pemangkasan kuota produksi di Indonesia.
Mengenai proses transaksi, sumber yang terlibat menyatakan bahwa negosiasi masih berlangsung secara privat.
Pembayaran untuk pengambilalihan saham tersebut diprediksi akan dilakukan secara bertahap.
Terdapat pula informasi bahwa pihak Haji Isam tengah menjajaki opsi pendanaan melalui bank-bank milik pemerintah Indonesia.
Hingga saat ini, belum ada kepastian mengenai realisasi kesepakatan tersebut meski target penyelesaian transaksi diharapkan dapat tercapai sebelum akhir 2026.
Menanggapi isu yang beredar, manajemen Bayan Resources melalui keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) menegaskan bahwa perseroan tidak memiliki pengetahuan mengenai rencana akuisisi tersebut.
Pihak manajemen menyatakan bahwa pemegang saham pengendali tetap memiliki hak untuk mempertimbangkan peluang investasi guna memaksimalkan nilai perusahaan.
Haji Isam sendiri saat ini dikenal sebagai pemilik Jhonlin Group yang memiliki lini bisnis pertambangan batu bara yang agresif.
Jika akuisisi ini berhasil, posisi Haji Isam di industri energi nasional akan semakin dominan, mengingat Jhonlin Group telah mengajukan kuota produksi sebesar 60 juta ton untuk tahun 2026.
Hingga berita ini diturunkan, perwakilan dari pihak Haji Isam, keluarga Low Tuck Kwong, maupun manajemen Bayan Resources belum memberikan pernyataan resmi lebih lanjut terkait detail negosiasi tersebut.
Investor di pasar modal kini diminta untuk tetap berhati-hati dan terus memantau keterbukaan informasi resmi dari emiten sebelum mengambil keputusan investasi lebih lanjut.










