Jakarta – Harga Bitcoin (BTC) kembali mencatatkan performa impresif dengan menembus level psikologis US$ 87.000 pada awal pekan ini.
Lonjakan harga tersebut mencerminkan optimisme pasar yang semakin menebal terhadap aset kripto utama dunia.
Berdasarkan data CoinMarketCap pada Selasa (22/9/2026), Bitcoin sempat menyentuh angka tertinggi di level US$ 87.200.
Saat ini, aset tersebut bergerak stabil di kisaran harga US$ 85.000 hingga US$ 86.000.
Chief Marketing Officer Indodax, Aloysia Dian, menilai bahwa kenaikan nilai Bitcoin kali ini didorong oleh kombinasi berbagai faktor fundamental yang solid.
“Minat investor institusional kembali menguat, sementara sentimen terhadap aset digital juga membaik,” ujar Aloysia dikutip dari laman Tribunnews, Selasa (22/9/2026).
Salah satu indikator utama penguatan ini adalah derasnya arus dana masuk ke produk investasi berbasis kripto.
Data dari SoSoValue mencatat bahwa ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat berhasil menghimpun net inflow sebesar US$ 1,591 miliar selama periode 17 hingga 21 September.
Aksi korporasi berskala besar juga turut memperkuat tren positif di pasar kripto global.
MicroStrategy, sebagai salah satu pemegang aset terbesar, diketahui telah menambah koleksi Bitcoin mereka sebanyak 950 BTC.
Pembelian tersebut bernilai sekitar US$ 75,7 juta yang dilakukan dalam rentang waktu 14 hingga 20 September.
Saat ini, total kepemilikan Bitcoin oleh perusahaan tersebut tercatat mencapai 846.000 BTC, atau setara dengan nilai US$ 63,8 miliar.
Selain faktor aliran modal institusional, perubahan iklim regulasi di Amerika Serikat turut memberikan sentimen positif bagi ekosistem aset digital secara keseluruhan.
Securities and Exchange Commission (SEC) baru-baru ini merilis kebijakan sementara yang memfasilitasi perdagangan saham melalui teknologi blockchain.
Meskipun kebijakan tersebut tidak menyasar Bitcoin secara langsung, pasar menangkap sinyal bahwa adopsi blockchain dalam sistem keuangan konvensional semakin terbuka lebar.
Kondisi makroekonomi global juga memberikan ruang bagi aset berisiko untuk kembali pulih.
Penurunan harga minyak dunia diprediksi mampu meredakan tekanan inflasi yang selama ini membayangi pasar keuangan.
Kondisi tersebut secara tidak langsung memicu peningkatan selera risiko investor terhadap aset-aset kripto.
Kendati momentum kenaikan harga masih terjaga, pelaku pasar tetap diimbau untuk bersikap waspada terhadap dinamika ekonomi global.
Kebijakan suku bunga bank sentral di masa mendatang diprediksi akan tetap menjadi variabel penentu bagi volatilitas harga kripto.
Aloysia menegaskan pentingnya bagi investor untuk melihat gambaran besar di balik kenaikan harga yang terjadi saat ini.
“Investor sebaiknya tidak hanya melihat momentumnya, tetapi juga memahami konteks di balik pergerakan tersebut,” tambah Aloysia.
Ia menyarankan agar masyarakat menghindari pengambilan keputusan investasi yang didasari oleh fenomena Fear of Missing Out (FOMO).
Setiap langkah dalam pasar kripto idealnya didahului dengan riset mandiri yang mendalam untuk meminimalisir potensi risiko kerugian di tengah fluktuasi harga yang tinggi.










