Jakarta – PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) kini memproyeksikan lonjakan pertumbuhan kinerja melalui akselerasi bisnis infrastruktur digital yang dijalankan anak usahanya, PT DSST.
Langkah strategis ini difokuskan pada perluasan kapasitas pusat data atau data center serta penetrasi ke ekosistem kecerdasan buatan (AI) yang sedang berkembang pesat.
Analis Indo Premier Sekuritas, Aurelia Barus, dalam risetnya pada Rabu (9/9/2026) mengungkapkan bahwa DSST merupakan pilar infrastruktur digital yang dimiliki sepenuhnya oleh DSSA.
“DSST juga menjadi holding company untuk sejumlah bisnis telekomunikasi dan digital yang tercatat di bursa, termasuk PT XL Axiata Tbk (EXCL) dan PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA),” ungkap Aurelia dalam riset tersebut.
Saat ini, DSST melalui entitas SM+ telah mengoperasikan 24 lokasi pusat data dengan kapasitas total mencapai 10 megawatt (MW).
Angka tersebut ditargetkan melonjak signifikan menjadi 43 MW pada akhir tahun buku 2026.
Penambahan kapasitas ini mencakup fasilitas 12 MW di Tangerang dan proyek strategis 21 MW di Kuningan, Jakarta.
Proyek di Kuningan dijalankan melalui skema usaha patungan dengan LG CNS, yang bertindak sebagai operator sekaligus penasihat teknologi.
Seluruh kapasitas 21 MW di fasilitas Kuningan dilaporkan telah terjual habis kepada pelanggan enterprise dan perusahaan teknologi berskala besar atau hyperscaler.
Fasilitas tersebut masih memiliki ruang ekspansi hingga 60 MW, sehingga memberikan peluang pertumbuhan jangka panjang di luar target operasional kuartal IV-2026.
“Fasilitas tersebut dapat diperluas hingga 60 MW, sehingga memberikan peluang pertumbuhan utama di luar peluncuran awal pada kuartal IV-2026,” tambah Aurelia.
Dari sisi operasional, DSST mengalokasikan belanja modal sekitar US$ 9 juta per MW dengan target margin EBITDA di kisaran 50%-60%.
Perusahaan kini mulai mengadopsi model build-to-suit (BTS) untuk pengembangan proyek selanjutnya demi memastikan tingkat utilisasi yang lebih efisien.
Model ini memungkinkan pembangunan fasilitas berdasarkan komitmen pelanggan, sehingga meminimalisir risiko spekulasi permintaan pasar.
Hasil pengecekan kanal menunjukkan potensi kapasitas pusat data DSST dalam jangka panjang dapat menyentuh angka 1 gigawatt (GW).
Ekspansi ini diproyeksikan akan merambah ke infrastruktur penunjang AI, seperti GPU, komputasi, dan penyimpanan data.
Indo Premier Sekuritas mencatat bahwa jika target 1 GW tercapai, nilai ekuitas bisnis data center DSST berpotensi mencapai Rp 338,9 triliun.
Valuasi tersebut mengasumsikan penggunaan multiple 20 kali EV/EBITDA dengan struktur pendanaan 70% utang dan 30% ekuitas.
Namun, Aurelia menegaskan bahwa pasar saat ini tampaknya sudah memperhitungkan ekspektasi pencapaian 1 GW tersebut dalam harga saham DSSA.
“Ini menunjukkan bahwa pasar pada dasarnya sudah banyak memperhitungkan ekspektasi DSST untuk mencapai kapasitas data center sebesar 1 GW,” jelas Aurelia.
Hingga perdagangan Rabu (9/9/2026), saham DSSA mencatatkan kenaikan sebesar 0,86% ke level Rp 1.170 per lembar saham.










