Jakarta – Perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin, 22 September 2026, ditutup dengan tren pelemahan yang meluas pada jajaran saham anggota indeks LQ45. Seluruh emiten yang masuk dalam kategori saham dengan rasio harga terhadap laba (Price Earning Ratio/PER) terendah tercatat mengalami koreksi harga secara serentak.

Kondisi pasar tersebut terjadi di tengah peningkatan aktivitas transaksi yang cukup signifikan. Total nilai transaksi harian bursa melonjak menjadi Rp14,5 triliun, meningkat dari posisi hari sebelumnya yang berada di angka Rp11,8 triliun. Meskipun dari sisi volume investor asing mencatatkan aksi beli bersih sebesar 1,48 miliar saham, namun dari sisi nilai moneter, terjadi arus keluar sebesar Rp131,7 miliar.

Data yang dihimpun dari Pusat Data Kontan dan RTI menunjukkan bahwa PT Adaro Andalan Indonesia (AADI) mencatatkan penurunan paling dalam di kelompok saham dengan PER terendah, yakni sebesar 3,88%. Saham PT Perusahaan Gas Negara (PGAS) juga mengalami tekanan jual yang cukup kuat hingga terkoreksi 3,00%, sekaligus memutus tren penguatan yang sempat dicapai pada sesi perdagangan sebelumnya.

Di jajaran emiten yang sama, PT Medco Energi Internasional (MEDC) turut mencatatkan pelemahan sebesar 0,68% dalam debutnya menggantikan posisi PT Indofood Sukses Makmur dalam daftar tersebut. Sementara itu, emiten lain seperti BBTN, INKP, NCKL, JPFA, ANTM, BBNI, dan BMRI juga kompak ditutup di zona merah dengan variasi penurunan harga.

Sentimen negatif juga menimpa saham-saham dengan valuasi yang lebih tinggi. PT Indika Energy (INDY) mengalami koreksi paling tajam di antara 20 saham yang diamati, dengan penurunan harga mencapai 5,13%. Pelemahan ini diikuti oleh PT Darma Henwa (DEWA) yang turun 4,40% dan PT Bumi Resources (BUMI) yang melemah sebesar 4,17%.

Tidak hanya itu, PT Merdeka Battery Materials (MBMA) mencatatkan koreksi sebesar 3,81%. Di tengah tekanan pasar tersebut, hanya segelintir saham yang mampu bertahan di zona hijau. PT Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) berhasil menguat 2,15%, sementara PT Amman Mineral Internasional (AMMN) mencatatkan kenaikan tipis sebesar 1,07%.

Dalam analisis valuasi, rasio price to book value (PBV) atau perbandingan harga saham terhadap nilai aset bersih perusahaan tetap menjadi perhatian investor. Berdasarkan data Pusat Data Kontan dan RTI, PT Indah Kiat Pulp & Paper (INKP) memegang posisi sebagai emiten dengan PBV terendah, yakni 0,36 kali, di antara 20 saham yang diobservasi.

Secara teknis, PER digunakan investor sebagai indikator untuk mengukur berapa kali lipat harga saham dibandingkan dengan laba bersih per saham yang dihasilkan perusahaan. Sementara itu, PBV berfungsi sebagai pembanding antara harga pasar saham dengan nilai aset bersih perusahaan per lembar sahamnya. Dinamika harga yang terjadi pada 22 September 2026 ini mencerminkan sikap kehati-hatian investor dalam merespons kinerja fundamental emiten di pasar modal domestik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *