Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mempertahankan posisinya di zona hijau pada perdagangan sesi pertama hari ini, Rabu (30/9/2026).
Berdasarkan data RTI, indeks acuan domestik tersebut mencatatkan kenaikan sebesar 0,15% atau 9,186 poin ke level 6.130,886.
Sentimen positif ini didorong oleh aksi beli investor yang berhasil mengangkat sebanyak 409 saham ke teritori positif.
Di sisi lain, terdapat 236 saham yang mengalami koreksi, sementara 143 saham lainnya ditutup stagnan.
Aktivitas perdagangan sepanjang sesi pertama tergolong cukup ramai dengan total volume mencapai 19,6 miliar saham.
Secara keseluruhan, nilai transaksi yang dibukukan pasar mencapai Rp 6,4 triliun.
Dukungan utama terhadap penguatan IHSG datang dari tujuh sektor indeks, dengan sektor industri memimpin kenaikan sebesar 1,63%.
Selain itu, sektor barang konsumen non-primer turut menguat sebesar 1,06% dan sektor barang baku naik 0,91%.
Pada jajaran saham LQ45, PT United Tractors Tbk (UNTR) mencatatkan lonjakan harga tertinggi sebesar 4,27% ke level Rp 26.250.
Kinerja positif juga diikuti oleh PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) dengan kenaikan 3,67% dan PT Darma Henwa Tbk (DEWA) yang menguat 2,94%.
Sebaliknya, tekanan jual tampak menekan saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) yang merosot 13,51% ke level Rp 32.
Penurunan juga terjadi pada saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) sebesar 3,77% serta PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) sebesar 2,35%.
Analis dari BRI Danareksa Sekuritas dalam laporan Sajian Pagi Menu Trading (SAPA MENTARI) menyatakan bahwa IHSG masih memiliki potensi pergerakan terbatas dengan kecenderungan melemah.
“Selama belum mampu menembus level 6.200, IHSG masih berisiko melanjutkan tekanan. Sebaliknya, jika berhasil menembus level tersebut, indeks berpeluang memasuki fase pemulihan teknikal,” tulis BRI Danareksa Sekuritas.
Secara teknikal, pihak sekuritas menempatkan level support IHSG pada rentang 6.000 hingga 5.854.
Sementara itu, level resistance terdekat diproyeksikan berada pada angka 6.200 dan 6.375.
Selain faktor teknikal domestik, pelaku pasar saat ini tengah mencermati dinamika pasar obligasi global yang sedang bergejolak.
Kekhawatiran terhadap kondisi fiskal pemerintah, inflasi yang belum mereda, serta lonjakan penerbitan surat utang telah memicu kenaikan imbal hasil obligasi di berbagai negara.
Yield US Treasury tenor 10 tahun terpantau berada di kisaran 5,2383%, mendekati level tertinggi sejak tahun 2007.
Kenaikan imbal hasil obligasi global ini menjadi perhatian serius karena menjadi acuan biaya pembiayaan korporasi serta harga aset keuangan lainnya.
Meski demikian, pasar saham regional Asia tampak tetap tenang, di mana indeks Nikkei Jepang menguat 0,9% dan Kospi Korea Selatan mencatatkan kinerja positif.










