Jakarta – Pengusaha Andi Syamsudin Arsyad, yang dikenal dengan sapaan Haji Isam, melakukan penambahan volume akuisisi saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) melalui entitas bisnisnya, PT Jhonlin Baratama.
Berdasarkan data terbaru per Selasa (6/10/2026), jumlah saham yang akan dialihkan dalam perjanjian jual beli bersyarat meningkat sebanyak 84,09 juta lembar.
Total saham yang kini disepakati untuk berpindah tangan mencapai 10,08 miliar saham, naik dari angka sebelumnya yang berada di posisi 10 miliar saham.
Perubahan ini tertuang secara resmi dalam amandemen Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat (PJBS) yang telah diteken oleh Dato’ Low Tuck Kwong dan Elaine Low bersama pihak pembeli pada 1 Oktober 2026.
“Setelah penyelesaian transaksi dan terpenuhinya seluruh syarat pendahuluan, Haji Isam akan memiliki 10.084.088.370 saham biasa BYAN,” tulis manajemen BYAN dalam keterangan resminya, Selasa (6/10).
Meski volume transaksi telah mengalami penyesuaian, manajemen perusahaan belum membeberkan rincian nilai nominal atau harga per saham dalam aksi korporasi tersebut.
Laporan Bloomberg sebelumnya sempat menyoroti ambisi Haji Isam yang dikabarkan tengah bernegosiasi untuk mengambil alih hingga 62 persen saham emiten batu bara milik orang terkaya di Indonesia tersebut.
Proyeksi nilai penawaran dalam negosiasi tersebut ditaksir mencapai angka US$ 3 miliar atau setara dengan Rp 52,65 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.550 per dolar AS.
Salah satu sumber Bloomberg menyebutkan bahwa pembayaran kemungkinan besar akan dilakukan secara bertahap, dengan harga yang dinilai mencerminkan diskon sekitar 80 persen dari harga pasar saat ini.
Di sisi lain, manajemen Bayan Resources menegaskan bahwa hingga saat ini belum terdapat rencana perubahan dalam susunan direksi maupun dewan komisaris pasca-transaksi.
Perseroan juga menyatakan belum menerima permintaan resmi dari pemegang saham utama untuk menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) guna membahas restrukturisasi pengurus perusahaan.
Terkait permintaan penjelasan dari Bursa Efek Indonesia (BEI) mengenai strategi pengembangan bisnis, peningkatan kapasitas operasional, hingga rencana sinergi dengan PT Jhonlin Baratama, manajemen memilih untuk tidak memberikan komentar lebih lanjut.
Hal ini disebabkan oleh status transaksi yang saat ini belum sepenuhnya rampung.
Manajemen BYAN menegaskan bahwa pihak perseroan tidak terlibat langsung dalam proses negosiasi tersebut.
“Pembahasan dan negosiasi transaksi dilakukan oleh para penjual dan tidak melibatkan Perseroan, Direksi dan Komisaris Perseroan selain Dato’ Low Tuck Kwong,” ungkap manajemen BYAN.
Hingga saat ini, belum ada pembahasan mendalam antara pihak emiten dengan PT Jhonlin Baratama mengenai rencana strategis atau ekspansi bisnis setelah proses akuisisi tuntas dilaksanakan.
Pasar saat ini masih menunggu kepastian penyelesaian seluruh syarat pendahuluan yang menjadi kunci bagi Haji Isam untuk mengukuhkan posisinya sebagai pemegang saham signifikan di Bayan Resources.










