Jakarta – Pasar saham global berada dalam tekanan berat pada awal pekan ini akibat kombinasi krisis energi, eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, dan ketidakpastian politik yang melanda kawasan Eropa. Para investor global kini memilih langkah defensif dengan membatasi transaksi di pasar saham sembari menanti rilis data inflasi Amerika Serikat yang akan menjadi penentu arah kebijakan moneter bank sentral dunia.

Lonjakan harga minyak mentah menjadi katalis utama pelemahan sentimen pasar global. Mengutip data Reuters, harga minyak mentah jenis Brent tercatat melonjak 1,3 persen ke posisi US$ 97,50 per barel. Angka ini merupakan level tertinggi yang dicapai dalam tujuh pekan terakhir setelah reli panjang sebesar hampir 8 persen pada pekan sebelumnya. Saat ini, harga minyak Brent telah melambung sekitar 35 persen dibandingkan posisi akhir Februari lalu.

Pemicu utama kenaikan harga energi ini adalah memanasnya situasi di kawasan Teluk. Pemerintah Iran menyatakan akan segera menetapkan zona terbatas di luar Selat Hormuz sebagai balasan atas aksi militer Amerika Serikat terhadap tiga kapal tanker Iran. Situasi semakin tegang setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dilaporkan meluncurkan rudal balistik yang menyasar dua kapal Angkatan Laut AS.

Lonjakan harga energi ini memberikan dampak domino bagi sektor riil. Harga diesel, yang menjadi komoditas vital bagi industri manufaktur, transportasi, pelayaran, hingga sektor pertanian, dilaporkan mencapai rekor tertinggi pada pekan lalu. Saat ini, harga diesel tercatat melonjak hingga 90 persen lebih tinggi dibandingkan periode sebelum konflik pecah.

Kondisi ini memicu kekhawatiran baru terkait inflasi global. Kenaikan harga bahan bakar dan pangan yang persisten diprediksi akan mempersulit bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter. Bahkan, terdapat probabilitas tinggi bahwa bank sentral akan menempuh jalur pengetatan kebijakan yang lebih agresif.

“Kesabaran bank sentral menghadapi guncangan energi telah mendukung harga aset dan siklus kredit. Namun, bank sentral kini mulai bergerak,” ujar Bruce Kasman, Kepala Ekonomi Global JPMorgan, sebagaimana dikutip dari laporan Reuters pada 7 September 2026.

Pasar kini mengantisipasi langkah Federal Reserve (The Fed) terkait suku bunga. Peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan 16 September mendatang diperkirakan mencapai 58 persen. Sementara itu, peluang kenaikan pada bulan Oktober diprediksi menyentuh angka 70 persen. Ekspektasi ini menguat setelah data tenaga kerja AS menunjukkan penambahan 162.000 lapangan kerja baru pada Agustus lalu, melampaui estimasi pasar.

Selain AS, bank sentral lain juga bersiap mengambil langkah serupa. European Central Bank (ECB) diperkirakan akan menaikkan suku bunga menjadi 2,5 persen pada Kamis, 10 September 2026. Bank of Japan (BoJ) pun diprediksi akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada 18 September dengan peluang mencapai 75 persen.

Ketidakpastian politik di Eropa turut menambah beban bagi investor. Kemenangan partai sayap kanan Alternative for Germany (AfD) dalam pemilihan negara bagian Saxony-Anhalt di Jerman pada Minggu, 6 September 2026, menjadi sorotan tajam. AfD dikenal memiliki agenda politik yang mencakup rencana keluar dari mata uang euro.

“Perkembangan ini berbahaya bagi stabilitas jangka panjang mata uang tunggal,” kata Kathleen Brooks, Direktur Riset XTB, dilansir dari Reuters (7/9/2026).

Situasi serupa terjadi di Prancis, di mana jajak pendapat menunjukkan potensi kemenangan pemimpin sayap kanan Marine Le Pen pada pilpres tahun depan. Fenomena pergeseran politik ke kanan di dua negara dengan ekonomi terbesar di Eropa ini memicu kekhawatiran akan stabilitas kawasan, yang pada akhirnya memberikan tekanan pada nilai tukar euro.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *