Lampung Timur – Kebakaran hebat melanda kawasan konservasi gajah sumatra di Taman Nasional Way Kambas, Kabupaten Lampung Timur, sejak Jumat (21/8).

Hingga Minggu (23/8), api dilaporkan masih berkobar di beberapa titik di dalam kawasan taman nasional tersebut.

Tim gabungan yang terdiri dari petugas Balai Taman Nasional Way Kambas, personel TNI, Polri, serta relawan terus berupaya melakukan pemadaman di lapangan.

Kepala Balai Taman Nasional Way Kambas, MHD Zaidi, mengungkapkan bahwa proses pemadaman menghadapi tantangan berat di lapangan.

“Di antaranya akses yang sulit dilalui oleh kendaraan,” kata MHD Zaidi sebagaimana dikutip dari Antara, Sabtu (22/8).

Kondisi geografis yang sulit dijangkau menyebabkan mobilisasi peralatan pemadam kebakaran menjadi terbatas.

Pihak otoritas taman nasional hingga saat ini belum dapat memastikan total luasan lahan yang terdampak akibat insiden kebakaran tersebut.

Upaya mitigasi terus dilakukan secara intensif agar api tidak meluas ke area inti konservasi yang menjadi habitat satwa langka.

Kawasan Taman Nasional Way Kambas merupakan salah satu ekosistem paling krusial di Indonesia dengan luas mencapai 125.000 hektare.

Area konservasi ini ditetapkan sebagai taman nasional sejak tahun 1989 untuk melindungi berbagai spesies yang terancam punah.

Selain menjadi rumah bagi populasi gajah sumatra, taman nasional ini juga menjadi habitat penting bagi badak sumatra, harimau sumatra, dan tapir asia.

Ancaman kebakaran lahan di wilayah ini bukanlah fenomena baru bagi otoritas setempat.

Sebelumnya, kebakaran besar juga sempat melanda kawasan konservasi ini pada Januari 2026.

Pada insiden awal tahun tersebut, luas lahan yang hangus terbakar dilaporkan mencapai lebih dari 2.600 hektare.

Kejadian ini kembali memicu kekhawatiran mengenai kerentanan ekosistem Way Kambas terhadap bencana kebakaran, terutama saat memasuki periode cuaca panas.

Keterlibatan berbagai elemen, termasuk aparat keamanan dan relawan, menunjukkan urgensi untuk segera mengendalikan situasi agar tidak berdampak pada populasi satwa liar.

Pihak pengelola taman nasional saat ini masih fokus pada upaya pemadaman manual dan pembuatan sekat bakar untuk memutus rambatan api.

Data mengenai luasan lahan yang terbakar akan segera dilakukan pendataan lebih lanjut setelah api berhasil dipadamkan sepenuhnya.

Pemerintah daerah dan otoritas terkait terus memantau perkembangan situasi di lokasi kejadian untuk memastikan tidak ada titik api baru yang muncul.

Kawasan konservasi ini memiliki fungsi vital bagi keseimbangan ekosistem dan keberlangsungan hidup satwa-satwa langka di Pulau Sumatra.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *