Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan hari ini, Rabu (9/9/2026), dengan tekanan jual yang cukup signifikan.
Data pasar menunjukkan indeks acuan domestik ini terkoreksi 38,9 poin atau setara dengan 0,58% menuju level 6.647,49 pada penutupan sesi pertama.
Kondisi pasar yang berada di zona merah ini mencerminkan sentimen negatif yang masih menyelimuti pergerakan investor di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Dominasi pelemahan terlihat dari pergerakan mayoritas indeks sektoral yang kompak berada di bawah tekanan.
Sektor kesehatan menjadi penekan utama indeks setelah mencatatkan penurunan sebesar 1,45%.
Pelemahan juga membayangi sektor teknologi dengan koreksi sebesar 1,00%.
Selain itu, sektor barang konsumer non-primer turut memberikan kontribusi negatif dengan penurunan 0,91%.
Sektor keuangan yang kerap menjadi motor penggerak indeks juga terpantau melemah 0,75%.
Tekanan serupa dialami oleh sektor properti dan real estate yang terkoreksi 0,58%.
Sementara itu, sektor barang konsumer primer dan barang baku masing-masing turun 0,54% dan 0,31%.
Sektor energi pun tidak luput dari tren negatif dengan penurunan tipis sebesar 0,25%.
Di tengah arus pelemahan tersebut, hanya segelintir sektor yang mampu mencatatkan pertumbuhan positif.
Sektor transportasi memimpin penguatan dengan kenaikan signifikan sebesar 2,15%.
Sektor infrastruktur juga menunjukkan performa positif dengan kenaikan 0,63%.
Sektor perindustrian menyusul dengan penguatan tipis sebesar 0,07%.
Aktivitas perdagangan di lantai bursa siang ini melibatkan total volume sebanyak 21,61 miliar saham.
Nilai transaksi yang tercatat di pasar mencapai Rp 8,32 triliun hingga berakhirnya sesi satu.
Secara keseluruhan, jumlah saham yang mengalami pelemahan jauh lebih dominan dibandingkan saham yang menguat.
Sebanyak 355 saham tercatat turun harga saat perdagangan sesi pertama berakhir.
Di sisi lain, hanya terdapat 268 saham yang berhasil mencatatkan kenaikan.
Sisanya, sebanyak 168 saham terpantau stagnan atau tidak mengalami perubahan harga.
Pada kelompok saham unggulan LQ45, tekanan jual terlihat pada PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) yang turun 2,68% ke level Rp 545 per saham.
PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) juga mencatatkan pelemahan sebesar 2,40% menjadi Rp 3.260 per saham.
Saham perbankan raksasa, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), turut terkoreksi 2,25% ke posisi Rp 6.525 per saham.
Sebaliknya, beberapa saham mampu melawan arus dan menjadi top gainers di jajaran LQ45.
PT Indika Energy Tbk (INDY) mencatatkan kenaikan paling mencolok sebesar 6,76% ke level Rp 3.000 per saham.
PT Indosat Tbk (ISAT) juga menguat 3,39% menuju harga Rp 2.440 per saham.
PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) melengkapi daftar penguatan dengan kenaikan 2,98% ke level Rp 12.100 per saham.
Pergerakan indeks sepanjang hari ini diprediksi masih akan dipengaruhi oleh dinamika pasar regional dan data ekonomi domestik terkini.










