Jakarta – PT Kereta Api Indonesia (KAI) secara resmi menetapkan target operasional penuh penggabungan perusahaan melalui skema inbreng dengan PT Industri Kereta Api (Inka) pada 1 Januari 2027.
Proses integrasi tersebut saat ini telah memasuki tahap awal yang dimulai sejak September 2026.
Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, menyatakan bahwa inbreng yang dilakukan bersifat bersyarat.
“Jadi inbrengnya bulan ini. Tapi kan jenisnya inbreng bersyarat, jadi proses konsolidasi dan integrasinya itu di 1 Januari 2027,” kata Bobby dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi VI DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (23/9), dikutip dari transkrip resmi rapat.
Langkah strategis ini diambil sebagai upaya mengoptimalkan industri perkeretaapian di dalam negeri.
KAI telah menuntaskan seluruh proses uji tuntas atau due diligence terhadap seluruh aspek operasional maupun manajerial yang dimiliki oleh Inka.
Integrasi ini mencakup penyatuan fungsi manufaktur serta sistem perawatan kereta api yang selama ini berjalan secara terpisah.
“Kami sedang petakan, karena proses perawatan kereta akan kami integrasikan dengan Inka, termasuk di dalamnya bengkel kereta,” ujar Bobby dalam kesempatan yang sama.
Penggabungan ini diproyeksikan akan memperkuat posisi Inka sebagai entitas yang mampu menangani spektrum bisnis perkeretaapian secara menyeluruh.
Spektrum tersebut meliputi aspek manufaktur, perawatan, hingga rekayasa teknis yang lebih kompleks.
Salah satu fokus utama integrasi adalah efisiensi logistik pada dua pabrik Inka yang berlokasi di Madiun dan Banyuwangi, Jawa Timur.
Selama ini, pemisahan produksi rangka bawah di Madiun dan rangka atas di Banyuwangi dianggap kurang efektif karena jarak yang jauh.
“Kereta harus bolak-balik dan ada biaya logistik di tengah-tengah. Nanti kami optimalkan, efisiensikan sehingga tidak ada lagi biaya logistik,” ungkap Bobby.
Sinergi juga akan dilakukan dengan mengombinasikan kekuatan Balai Yasa milik KAI dengan kapasitas manufaktur Inka.
Balai Yasa yang selama ini berfungsi sebagai bengkel pusat KAI dinilai memiliki keunggulan pada aspek rekayasa teknis.
“Balai Yasa kuat di rekayasa. Nah, Inka kuatnya di manufaktur,” jelas Bobby.
Selain itu, fasilitas Balai Yasa di Lampung dan Sumatra Selatan akan dioptimalkan sebagai basis produksi Inka di Pulau Sumatra guna mendukung operasional KAI di luar Pulau Jawa.
Rencana ini mengalami penyesuaian dari target awal yang sebelumnya diharapkan rampung pada November 2026.
Direktur Portofolio Manajemen dan Teknologi Informasi KAI, I Gede Darmayusa, menjelaskan bahwa Danantara telah memberikan mandat kajian komprehensif pada 18 Mei 2026.
Kajian tersebut bertujuan untuk memastikan kepastian pasokan sarana, efisiensi operasional, serta perbaikan fundamental bisnis Inka.
KAI telah memetakan kebutuhan sarana untuk lima tahun ke depan secara mendetail.
Kebutuhan tersebut mencakup 2.000 gerbong bottom dump, 1.200 gerbong datar, 652 kereta penumpang, dan 30 rangkaian kereta rel listrik (KRL) untuk Jabodetabek.
Integrasi ini diharapkan dapat mengatasi tantangan terkait ketepatan waktu pengiriman dan peningkatan kualitas sarana kereta api.
“Dengan adanya integrasi KAI dan Inka, kita harapkan KAI dan Inka bisa membuat roadmap kerja sama pengadaan sarana jangka panjang,” kata Gede dikutip dari laporan resmi perusahaan.
Pendekatan jangka panjang ini diharapkan menggantikan sistem pengadaan tahunan yang selama ini dianggap kurang optimal dalam perencanaan penelitian dan pengembangan (R&D).










