Jakarta – Paiton Energy, perusahaan listrik di bawah naungan Medco Group, tengah menjajaki kerja sama strategis dengan Mitsubishi Power untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU).

Langkah ini diambil sebagai upaya perusahaan dalam meningkatkan kapasitas produksi listrik nasional sekaligus menekan jejak emisi karbon secara signifikan.

Presiden Direktur Paiton Energy, Fazil Erwin Alfitri, menyebutkan bahwa pihaknya kini tengah melakukan diskusi intensif terkait pengadaan teknologi turbin gas mutakhir.

“Sekarang kami bicara dengan Mitsubishi Power, teknologi turbin gas yang sangat advanced, yang juga bisa beroperasi dengan hidrogen,” kata Fazil dalam sebuah diskusi di Jakarta, Kamis (24/9), dikutip dari laporan resmi perusahaan.

Saat ini, Paiton Energy mengoperasikan tiga Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara dengan total kapasitas 2,04 gigawatt (GW) di Probolinggo, Jawa Timur.

Ketiga fasilitas tersebut menyumbang sekitar 6 persen dari total kebutuhan listrik di Pulau Jawa.

Fazil menegaskan bahwa opsi memensiunkan dini PLTU batu bara bukanlah solusi yang realistis saat ini karena tingginya permintaan listrik.

“Kalau kami pensiunkan, tidak ada penggantinya, sementara growth lagi tinggi-tingginya. Jadi, yang kami butuhkan adalah peningkatan kapasitas, tapi dengan energi yang lebih bersih,” ujar Fazil.

Paiton Energy mencatat intensitas emisi karbon saat ini berada di angka 913 gram per kWh.

Perusahaan memproyeksikan penambahan kapasitas PLTGU sebesar 2,6 GW akan memangkas intensitas emisi karbon hingga 34 persen.

Strategi jangka panjang perusahaan tertuang dalam Clean Gas Technology Roadmap: 2025-2060 yang membagi transisi energi ke dalam tiga fase utama.

Fase pertama (2025-2030) difokuskan pada pembangunan PLTGU yang siap menggunakan hidrogen, pengembangan infrastruktur liquefied natural gas (LNG), serta pemanfaatan energi surya.

Pada fase kedua (2030-2040), perusahaan akan mulai menerapkan campuran hidrogen dan amonia pada pembangkit yang telah beroperasi.

“Hampir semua turbin gas hari ini itu hydrogen ready, mungkin 20-30 persen campuran hidrogen,” ungkap Fazil.

Fase terakhir (2040-2060) akan difokuskan pada dekarbonisasi mendalam dengan penggunaan hidrogen atau amonia secara penuh.

Di sisi lain, Mitsubishi Power menyatakan kesiapannya mendukung transisi energi ini melalui penyediaan teknologi turbin gas seri JAC.

Presiden Direktur Mitsubishi Power Indonesia, Nobuhiro Kawai, menjelaskan bahwa turbin tersebut menawarkan efisiensi combined cycle di atas 64 persen dengan tingkat keandalan mencapai 99,6 persen.

“Peran kami adalah menyediakan teknologi yang dapat mendukung transisi yang praktis ini, mulai dari turbin gas berefisiensi tinggi dengan fleksibilitas bahan bakar hidrogen,” ujar Kawai.

Teknologi dari perusahaan asal Jepang ini saat ini telah menyokong sekitar 19 GW atau 30 persen dari total kapasitas listrik nasional Indonesia.

Paiton Energy menargetkan pencapaian net zero emission pada tahun 2060 melalui diversifikasi portofolio energi yang lebih ramah lingkungan dan rendah karbon.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *