Jakarta – Saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) mengalami tekanan jual yang signifikan pada perdagangan Selasa (15/9), dengan penurunan mencapai 9,23% ke level Rp 10.075 per lembar pada pukul 11:11 WIB. Pelemahan ini memperpanjang tren negatif emiten batu bara milik konglomerat Low Tuck Kwong tersebut, yang tercatat telah merosot 35,19% secara year to date (ytd) dan terperosok 29,34% dalam satu bulan terakhir.

Sentimen pasar terhadap saham BYAN saat ini dipengaruhi oleh spekulasi rencana akuisisi sebesar 62% saham perusahaan oleh entitas yang dikendalikan pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad, atau yang lebih dikenal sebagai Haji Isam. Berdasarkan laporan yang dikutip dari Bloomberg, Rabu (9/9), Haji Isam dikabarkan mengajukan penawaran tunai senilai US$ 3 miliar atau sekitar Rp 52,65 triliun untuk kepemilikan mayoritas tersebut.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyatakan bahwa penurunan harga saham saat ini lebih didorong oleh penyesuaian ekspektasi pasar terhadap nilai transaksi dibandingkan adanya upaya rekayasa harga atau price suppression. Menurutnya, nilai penawaran yang beredar di pasar saat ini dinilai jauh lebih rendah dibandingkan valuasi pasar perusahaan.

“Serta penyesuaian ekspektasi terhadap kemungkinan harga transaksi, bukan langsung diasumsikan sebagai rekayasa harga,” ujar Nafan, Selasa (15/9).

Nafan menambahkan bahwa karakteristik saham BYAN yang memiliki porsi free float terbatas serta likuiditas perdagangan yang tipis membuat harganya sangat sensitif terhadap aksi jual-beli dalam jumlah tertentu. Hal ini menyebabkan volatilitas tinggi setiap kali muncul rumor terkait proses negosiasi akuisisi.

Terkait kekhawatiran pelaku pasar bahwa penurunan harga saham akan memengaruhi nilai Penawaran Tender Wajib (Mandatory Tender Offer/MTO), Nafan menjelaskan bahwa mekanismenya diatur ketat oleh POJK 9/2018. Harga minimum MTO ditentukan oleh nilai tertinggi antara harga pengambilalihan atau rata-rata harga tertinggi perdagangan harian selama 90 hari kalender sebelum pengumuman akuisisi.

“Karena bagi calon pengendali, yang paling penting bukan sekadar membuat harga pasar turun, melainkan tanggal pengumuman transaksi dan harga akuisisi yang disepakati, karena kedua faktor tersebut sangat menentukan formula MTO,” ungkap Nafan.

Selain isu akuisisi, kinerja operasional BYAN juga tengah mendapat sorotan setelah tiga anak usahanya mengalami hambatan produksi akibat belum mendapatkan persetujuan perubahan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 dari Kementerian ESDM. Gangguan ini terjadi di tengah kebijakan pemerintah yang membatasi kuota produksi batu bara nasional guna menjaga stabilitas harga komoditas global.

Sebelumnya, harga saham BYAN sempat menyentuh level Rp 17.272 pada 18 Agustus 2026 menyusul mencuatnya kabar rencana akuisisi tersebut. Namun, dinamika pasar yang dipicu oleh isu diskon harga akuisisi sebesar 80% dari nilai pasar telah memicu aksi ambil untung oleh investor, sehingga menekan harga saham emiten tersebut secara berkelanjutan hingga perdagangan hari ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *