Jakarta – Komoditas gas alam diprediksi menjadi instrumen energi dengan potensi kenaikan harga paling signifikan dibandingkan minyak mentah maupun batubara hingga penghujung 2026.

Posisi harga yang saat ini masih berada di level rendah menjadi salah satu pemicu utama proyeksi penguatan tersebut.

Data Trading Economics pada Jumat (4/9/2026) menunjukkan harga gas alam berada di posisi US$ 2,96 per MMBtu.

Angka tersebut mencatatkan kenaikan harian sebesar 1,66 persen.

Dalam periode sepekan terakhir, harga komoditas ini telah menguat 1,26 persen.

Sementara itu, akumulasi kenaikan bulanan telah menyentuh angka 8,79 persen.

Analis Mata Uang sekaligus Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono, menilai gas alam memiliki ruang upside paling lebar.

“Gas alam memiliki potensi persentase penguatan paling besar karena secara valuasi grafik satu tahun, saat ini baru berada di US$ 2,96 dan masih sangat jauh dari level tertingginya,” ujar Wahyu, Jumat (4/9/2026).

Sebagai catatan, harga gas alam sempat menyentuh level tertinggi dalam setahun di kisaran US$ 7,82 per MMBtu.

Faktor musiman menjadi variabel krusial yang mendasari optimisme penguatan harga tersebut.

Menjelang musim dingin di belahan bumi utara, permintaan gas untuk kebutuhan pemanas ruangan dan pembangkit listrik dipastikan melonjak.

Dari sisi pasokan, produksi gas serpih atau dry gas di Amerika Serikat terpantau mengalami perlambatan.

Kondisi tersebut dipicu oleh penurunan aktivitas rig gas yang terjadi sepanjang pertengahan tahun 2026.

Di sisi lain, arus pasokan menuju terminal ekspor LNG Amerika Serikat saat ini sudah kembali mencapai kapasitas optimalnya.

Negara-negara di Eropa dan Asia Timur Laut juga mulai mempercepat pengisian fasilitas penyimpanan gas mereka.

Langkah ini dilakukan sebagai antisipasi terhadap potensi lonjakan kebutuhan energi saat musim dingin tiba.

“Terlepas dari isu geopolitik Iran, natural gas secara musiman bisa bergerak liar,” ungkap Wahyu.

Ia menambahkan bahwa kenaikan drastis dapat terjadi secara mendadak mengikuti pola historis komoditas tersebut.

Volatilitas tinggi ini dinilai menarik minat para pelaku pasar spekulatif di sektor perdagangan berjangka.

Namun, realisasi kenaikan harga tetap bergantung pada dinamika cuaca global.

Jika musim dingin berlangsung lebih hangat dari prakiraan, permintaan bahan bakar untuk pemanas kemungkinan akan tertekan.

Wahyu memproyeksikan harga gas alam akan bergerak di kisaran US$ 3,20 hingga US$ 4,50 per MMBtu hingga akhir 2026.

Apabila terjadi anomali cuaca ekstrem seperti polar vortex, harga berpotensi melonjak hingga US$ 5,50 per MMBtu.

Bahkan, tidak menutup kemungkinan harga akan mencapai level US$ 7,00 per MMBtu dalam skenario cuaca ekstrem tertentu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *