Jakarta – Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menghadapi tekanan jual yang sangat ekstrem pasca-perubahan aturan batas harga minimum saham menjadi Rp 1 oleh Bursa Efek Indonesia.
Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa harga saham emiten teknologi tersebut dapat terus merosot hingga ke level terendah, yakni Rp 1 per lembar.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menyatakan bahwa pelemahan harga GOTO saat ini bukan sekadar dipicu oleh sentimen pasar semata.
Menurutnya, masalah utama yang mendera GOTO adalah ketidakseimbangan yang parah antara pasokan saham di pasar dan permintaan investor.
“Namun angkanya menunjukkan bahwa masalah GOTO bukan sekedar sentimen, melainkan ketidakseimbangan supply-demand yang sangat ekstrem,” ujar Liza sebagaimana dikutip dari pernyataan resminya, Selasa (29/9).
Data perdagangan menunjukkan antrean jual yang sangat tebal dibandingkan dengan volume transaksi yang berhasil dieksekusi setiap harinya.
Pada hari pertama perdagangan dengan aturan baru, antrean jual GOTO mencapai 1 miliar lot, namun hanya 1,2 juta lot yang terserap di harga Rp 43.
Secara matematis, kondisi tersebut mengindikasikan perlunya waktu sekitar 833 hari bursa untuk menghabiskan seluruh antrean jual jika tidak ada perubahan signifikan.
Situasi serupa terjadi pada hari kedua, di mana antrean jual tercatat sebanyak 842 juta lot, sementara transaksi hanya mencapai 1,8 juta lot pada harga Rp 37.
Liza menjelaskan bahwa perhitungan tersebut tidak bisa dianggap sebagai proyeksi harga mutlak karena investor dapat menarik atau menambah pesanan jual mereka.
Namun, angka tersebut menggambarkan betapa sulitnya posisi pemegang saham GOTO dalam melepas kepemilikan mereka saat ini.
“Artinya yang punya saham GOTO puluhan juta lot bakalan kurus kering menunggu jemurannya laku,” ungkap Liza.
Jika tren auto rejection bawah (ARB) terus berlanjut setiap hari, harga saham GOTO berisiko mencapai Rp 1 dalam kurun waktu 19 hari bursa.
Jangka waktu tersebut diperkirakan akan mencapai puncaknya pada akhir Oktober 2026, dengan asumsi tidak ada intervensi atau perubahan aturan perdagangan.
Secara teknis, untuk mencapai level harga Rp 27 dari posisi saat ini, hanya dibutuhkan sekitar dua hari perdagangan dengan status ARB.
Kondisi tersebut berdampak signifikan terhadap investor institusi maupun ritel yang memiliki kepemilikan saham dalam jumlah besar.
Dengan rata-rata volume transaksi harian yang rendah, total saham yang terserap selama proses penurunan harga dari Rp 50 ke Rp 1 diprediksi hanya mencakup sekitar 3,2% hingga 4,1% dari total antrean jual awal.
Artinya, sekitar 96% pasokan saham masih akan tertahan di pasar jika tidak ada pembeli yang cukup agresif.
“Waktu stuck di Rp 50, setidaknya harganya masih Rp 50. Sekarang floor price dibuka, harga terancam turun ke Rp 1 kalau tidak ada yang mau beli,” jelas Liza.
Pada perdagangan Rabu (30/9), harga saham GOTO terpantau kembali anjlok sebesar 13,95% atau 6 poin ke level Rp 37.
Antrean jual pada sesi hari ini tercatat mencapai 957,21 juta lot dengan valuasi mencapai Rp 6,89 triliun.
Ketidakseimbangan ini memaksa para investor untuk menanggung risiko likuiditas yang tinggi di tengah ketidakpastian harga ke depan.









