Jakarta – Nilai tukar rupiah di pasar spot mencatatkan tren negatif pada perdagangan hari ini, Senin (21/9/2026).

Hingga pukul 12.10 WIB, mata uang Garuda tertekan di level Rp 17.827 per dolar Amerika Serikat (AS).

Posisi tersebut menunjukkan pelemahan sebesar 0,39% jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan akhir pekan lalu yang berada di angka Rp 17.758 per dolar AS.

Kondisi pelemahan rupiah ini menempatkan Indonesia sebagai pemimpin daftar mata uang Asia yang paling tertekan terhadap dolar AS pada sesi siang ini.

Data pasar menunjukkan bahwa rupiah menjadi mata uang dengan koreksi terdalam di kawasan regional.

Selain rupiah, beberapa mata uang lain di Asia juga turut melemah meski dengan persentase yang lebih kecil.

Yen Jepang tercatat melemah sebesar 0,09% terhadap dolar AS.

Selanjutnya, peso Filipina terkoreksi 0,07%, dolar Hong Kong turun 0,005%, dan yuan China melemah tipis 0,001%.

Di sisi lain, sentimen pasar di Asia terlihat cukup bervariasi dengan adanya mata uang yang justru mampu menguat.

Won Korea memimpin penguatan di kawasan dengan kenaikan sebesar 0,34%.

Ringgit Malaysia dan dolar Taiwan masing-masing mencatatkan apresiasi sebesar 0,10%.

Rupee India juga bergerak positif dengan penguatan 0,08%.

Sementara itu, dolar Singapura menguat 0,03% dan baht Thailand naik 0,02% terhadap mata uang Paman Sam.

Tekanan terhadap mata uang Asia, termasuk rupiah, berbanding lurus dengan pergerakan indeks dolar AS.

Indeks yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap mata uang utama dunia tersebut terpantau berada di posisi 100,31.

Angka ini mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan posisi akhir pekan lalu yang berada di level 100,22.

Penguatan indeks dolar ini menjadi faktor utama yang membebani pergerakan mata uang regional, termasuk rupiah yang terus tertekan sejak pembukaan pasar pagi tadi.

Para pelaku pasar kini tengah memantau perkembangan kebijakan moneter global yang mempengaruhi arus modal di negara berkembang.

Fluktuasi nilai tukar yang terjadi saat ini mencerminkan tingginya volatilitas di pasar keuangan kawasan Asia.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada intervensi lebih lanjut dari otoritas moneter yang diumumkan secara resmi terkait pelemahan mata uang domestik tersebut.

Investor disarankan tetap waspada terhadap sentimen eksternal yang sewaktu-waktu dapat memicu perubahan arah pergerakan pasar valuta asing.

Secara teknikal, posisi rupiah yang menembus level Rp 17.800 menjadi perhatian serius bagi pelaku pasar domestik.

Pergerakan nilai tukar ini juga beriringan dengan dinamika di pasar modal yang menunjukkan tekanan serupa pada indeks harga saham.

Kondisi ekonomi global yang masih dibayangi ketidakpastian memicu investor untuk kembali memburu dolar AS sebagai aset aman.

Situasi ini diperkirakan akan terus berlanjut hingga penutupan perdagangan sore nanti jika tidak ada katalis positif yang mampu mendorong penguatan mata uang regional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *