Jakarta – Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) mencatatkan pemulihan signifikan pada perdagangan akhir pekan lalu, Jumat (2/10), setelah sempat mengalami tekanan jual selama empat hari berturut-turut.

Peningkatan harga ini terjadi sebagai respons pasar terhadap kebijakan baru Bursa Efek Indonesia (BEI) yang menghapus batas bawah harga saham dari Rp50 menjadi Rp1.

Data perdagangan mencatat saham GOTO menguat 7,14 persen ke level Rp30 per lembar saham pada penutupan Jumat.

Lonjakan harga tersebut dibarengi dengan nilai transaksi harian yang mencapai Rp2,7 triliun.

Kinerja positif tersebut berlanjut pada perdagangan Senin (5/10), di mana harga saham GOTO tetap bertahan di level Rp30 per lembar.

Selama periode 28 September hingga 2 Oktober, GOTO mendominasi pasar modal dengan volume perdagangan terbesar.

Total volume transaksi mencapai 110,96 miliar saham, yang merepresentasikan 43,54 persen dari total volume perdagangan di bursa.

Secara nilai, kontribusi transaksi GOTO mencapai Rp3,06 triliun atau 4,79 persen dari total nilai transaksi bursa nasional.

Angka tersebut menempatkan GOTO sebagai saham dengan nilai transaksi terbesar ketiga setelah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM).

Pemulihan harga ini dinilai terjadi karena hilangnya antrean jual yang sebelumnya menumpuk di batas bawah harga saham (ARB).

Direktur dan Sekretaris Perusahaan GoTo, R.A. Koesoemohadiani, menyatakan bahwa fluktuasi harga sejak 28 September dipicu oleh penyesuaian portofolio investor pasca-perubahan aturan BEI.

Peraturan baru tersebut memberikan kesempatan bagi pemegang saham untuk melepas posisi mereka di pasar reguler yang sebelumnya terhambat oleh batas harga Rp50.

“Perseroan meyakini bahwa harga saham perseroan saat ini tidak mencerminkan fundamental bisnis yang terus menerus menguat. Dinamika harga saham lebih disebabkan oleh berbagai aspek teknis,” ujar Koesoemohadiani, dikutip dari keterbukaan informasi BEI, Jumat (2/10).

Koesoemohadiani menegaskan bahwa kinerja operasional perusahaan tetap berada di jalur yang positif.

Pada kuartal II 2026, GoTo berhasil mencatatkan laba bersih sebesar Rp252 miliar, menandai perolehan laba selama dua kuartal berturut-turut.

Pendapatan bersih perusahaan mencapai Rp5,7 triliun dengan EBITDA yang disesuaikan melampaui Rp1 triliun.

Manajemen menargetkan pencapaian EBITDA yang disesuaikan sepanjang tahun 2026 berada di kisaran Rp3,2 hingga Rp3,4 triliun.

Untuk menjaga nilai pemegang saham, perusahaan menyiapkan dua langkah strategis jangka panjang.

Langkah pertama adalah rencana pembelian kembali saham (buyback) periode 2026-2027 dengan nilai maksimal Rp3,5 triliun yang telah disetujui dalam RUPSLB pada 18 Juni lalu.

“Implementasi akan bergantung pada keputusan manajemen, dengan mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk kondisi pasar global dan nasional terkini beserta segala dinamika yang terjadi pada saat ini,” ungkap Koesoemohadiani dalam keterbukaan informasi BEI.

Langkah kedua adalah pengurangan modal melalui penarikan atau penghapusan saham treasuri sebanyak 32,18 miliar saham Seri A.

Rencana tersebut akan dimintakan persetujuan dalam RUPSLB yang dijadwalkan berlangsung pada 14 Oktober mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *