Jakarta – Lima produk Exchange Traded Fund (ETF) berbasis emas fisik syariah mencatatkan tren positif sejak mulai diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia pada 10 Agustus 2026.
Data perdagangan per Jumat (21/8) menunjukkan penguatan harga pada seluruh instrumen tersebut.
Produk XGLD memimpin kenaikan dengan apresiasi sebesar 2,71% menjadi Rp 265 per unit.
Selanjutnya, XTRA mencatatkan kenaikan 1,54% ke level Rp 264 per unit.
Instrumen XSGO menyusul dengan penguatan 1,34% menjadi Rp 1.058 per unit.
Sementara itu, XMES dan XDES masing-masing naik sebesar 0,59% dan 0,20% dengan harga penutupan Rp 855 dan Rp 1.000 per unit.
Kehadiran instrumen ini memberikan alternatif baru bagi pelaku pasar untuk mendapatkan eksposur emas melalui mekanisme bursa.
Kendati demikian, para ahli menilai bahwa kinerja harga jangka pendek bukanlah acuan utama bagi investor institusi dalam menempatkan modal.
CEO dan Founder Finansialku, Melvin Mumpuni, menyebutkan bahwa emas memiliki peran krusial sebagai instrumen diversifikasi.
“Untuk dana pensiun dan institusi lain, emas dapat memiliki fungsi sebagai diversifikasi portofolio, terutama ketika investor ingin memiliki eksposur terhadap aset yang karakteristik risikonya berbeda dengan saham maupun obligasi,” ujar Melvin, Senin (24/8/2026).
Menurutnya, adopsi oleh investor institusi masih memerlukan waktu dan bergantung pada beberapa parameter fundamental.
Parameter tersebut mencakup tingkat likuiditas, ukuran pasar, biaya operasional, serta rekam jejak pengelola.
Selain itu, mekanisme aset dasar dan kesesuaian produk dengan batasan investasi internal institusi menjadi pertimbangan penting.
Likuiditas pasar dipandang sebagai kunci utama untuk meningkatkan daya tarik instrumen tersebut di kalangan investor besar.
“Jika likuiditas ETF semakin dalam dan volume transaksi semakin besar, peluang instrumen ini masuk lebih jauh ke portofolio institusi tentu akan semakin terbuka,” tambah Melvin.
Pasar yang likuid memungkinkan institusi melakukan eksekusi transaksi dengan lebih efisien.
Di sisi lain, aspek tata kelola dan transparansi produk juga mendapat sorotan dari para praktisi keuangan.
Perencana Keuangan dari Finansia Consulting, Eko Endarto, menekankan pentingnya manajemen yang profesional bagi keberlangsungan produk ETF emas.
“Sangat bagus sebenarnya asalkan dikelola dengan baik. Jadi sangat tergantung bagaimana pengelolaan dan transparansi produk tersebut,” ucap Eko.
Ia menambahkan bahwa sentimen positif dari kenaikan harga emas global akan tetap menjadi motor penggerak utama kinerja ETF di pasar modal.
Namun, faktor internal seperti efisiensi biaya dan integritas pengelolaan tetap menjadi penentu jangka panjang.
Secara keseluruhan, perkembangan ETF emas di Bursa Efek Indonesia dianggap sebagai langkah inovatif dalam menyediakan instrumen investasi yang terdiversifikasi.
Keberhasilan produk ini dalam menarik minat institusi besar akan sangat bergantung pada kemampuannya menjaga likuiditas serta transparansi operasional di masa mendatang.








