Jakarta – Sejumlah emiten perbankan besar di Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai mengambil langkah strategis melalui aksi pembelian kembali saham atau buyback di tengah guncangan pasar modal nasional.

Langkah ini diambil menyusul sentimen negatif dari rencana Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang mempertimbangkan penurunan klasifikasi pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.

Pengumuman dari penyedia indeks global tersebut sempat memicu kepanikan investor hingga menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 14,91% dalam sepekan terakhir hingga penutupan perdagangan Jumat (16/10/2026).

Tekanan jual pun berlanjut pada awal pekan ini, Senin (19/10/2026), di mana IHSG kembali terkoreksi sebesar 3,64% ke level 4.996,6.

Namun, kondisi pasar berbalik arah pada perdagangan Selasa (20/10/2026), saat IHSG berhasil mencatatkan rebound signifikan sebesar 5,65% dan ditutup di level 5.278,89.

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi salah satu emiten yang merespons volatilitas ini dengan mengeksekusi buyback tahap ketiga tahun ini pada rentang waktu 19 hingga 21 Oktober 2026.

Aksi korporasi ini merupakan bagian dari alokasi dana maksimal Rp5 triliun yang telah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada Maret 2026.

Sebelumnya, BBCA telah merealisasikan buyback pada April dan Juni 2026, meskipun manajemen belum mempublikasikan nilai total realisasi dana yang telah digunakan hingga saat ini.

Sempat tertekan hingga batas auto reject bawah (ARB) sebesar 6,86% pada Senin (19/10/2026), saham BBCA akhirnya pulih dengan kenaikan 7,88% ke posisi Rp5.200 pada perdagangan hari ini.

Selain BBCA, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) juga mengonfirmasi tengah mengkaji opsi buyback saham sebagai langkah mitigasi dan strategi korporasi.

Direktur Utama BBTN, Nixon Napitupulu, menjelaskan bahwa kajian tersebut melibatkan kalkulasi mendalam terkait kondisi keuangan, kecukupan permodalan, serta kebutuhan ekspansi bisnis perusahaan.

“Buyback merupakan salah satu opsi yang sedang kami kaji, termasuk terkait dengan potensi pemanfaatan saham hasil pembelian kembali untuk peruntukan tertentu sesuai dengan kebutuhan Perseroan,” ujar Nixon, Selasa (20/10/2026).

Sejalan dengan sentimen positif pasar, saham BBTN turut menguat 5,88% ke level Rp900 pada penutupan perdagangan hari ini.

Kendati aksi korporasi tersebut memberikan sentimen positif, para analis menilai penguatan harga saham hari ini juga dipengaruhi oleh faktor teknikal pasar.

Senior Market Analyst, Nafan Aji Gusta, menyatakan bahwa koreksi tajam yang terjadi dalam beberapa hari terakhir telah mendorong indikator teknikal ke area oversold atau jenuh jual yang ekstrem.

“Itu membuka peluang terjadinya pemulihan teknikal,” kata Nafan, dikutip dari analisis pasar yang disampaikan sebelumnya.

Secara keseluruhan, upaya emiten perbankan untuk menahan penurunan harga saham melalui buyback menjadi krusial dalam menjaga kepercayaan investor di tengah ketidakpastian status pasar modal Indonesia di mata global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *