Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) mengambil langkah strategis dengan mengecualikan saham-saham yang masuk dalam kategori high shareholding concentration (HSC) dari perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Kebijakan ini diproyeksikan akan memengaruhi sekitar 18% dari total bobot IHSG di masa mendatang.

Pihak otoritas bursa menegaskan bahwa kebijakan ini bukan merupakan bagian dari proses penghapusan pencatatan efek atau delisting.

Saham-saham yang terdampak tetap dapat diperdagangkan secara normal di pasar reguler, namun pergerakan harganya tidak akan lagi berdampak pada fluktuasi IHSG.

Langkah ini merupakan kelanjutan dari kebijakan serupa yang sebelumnya telah diterapkan BEI pada sejumlah indeks unggulan, seperti LQ45, IDX30, dan IDX80.

Terdapat delapan emiten dari sektor barang baku yang kini menjadi sorotan terkait kebijakan tersebut.

Daftar emiten tersebut meliputi PT Alakasa Industrindo Tbk (ALKA), PT Saranacentral Bajatama Tbk (BAJA), PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA), PT Cemindo Gemilang Tbk (CMNT), PT Delta Giri Wacana Tbk (DGWG), PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB), PT Samator Indo Gas Tbk (AGII), dan PT Ifishdeco Tbk (IFSH).

Tingkat kepemilikan saham publik atau free float yang rendah menjadi salah satu indikator utama dalam kategori HSC ini.

PT Ifishdeco Tbk (IFSH) tercatat memiliki porsi free float paling minim di antara daftar tersebut, yakni hanya sebesar 0,48%.

Sementara itu, PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA) mencatatkan free float sebesar 7,71%, disusul PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) sebesar 7,48%, dan PT Samator Indo Gas Tbk (AGII) sebesar 7,25%.

Di sisi lain, PT Saranacentral Bajatama Tbk (BAJA) memiliki porsi free float yang relatif lebih tinggi, yakni mencapai 20,87%.

Struktur kepemilikan saham pada emiten-emiten tersebut umumnya didominasi oleh pemegang saham pengendali atau entitas tertentu.

Pada PT Alakasa Industrindo Tbk (ALKA), PT Gesit Perkasa memegang kendali atas 83,80% saham, dengan Jahja Soetoyo sebagai penerima manfaat akhir atau ultimate beneficial owner (UBO).

PT Cemindo Gemilang Tbk (CMNT) juga menunjukkan konsentrasi kepemilikan yang tinggi melalui WH Investments dengan porsi 87,37%, di mana Martua Sitorus tercatat sebagai UBO.

Kondisi serupa terjadi pada PT Delta Giri Wacana Tbk (DGWG) yang dikendalikan oleh David Yaory dengan kepemilikan 72,34%.

Pada PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB), Jimmy Budiarto memegang kendali utama dengan kepemilikan UBO yang dilaporkan mencapai 92,50%.

Sementara itu, PT Samator Indo Gas Tbk (AGII) dikendalikan oleh keluarga Harsono, yakni Imelda Harsono dan Rachmat Harsono, dengan struktur pemegang saham yang tersebar di beberapa entitas seperti Samator dan Matrix Company.

Penyesuaian metodologi indeks ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan representasi IHSG terhadap kondisi pasar yang lebih likuid dan terdiversifikasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *